Enam Kondisi Ekonomi Iran

    Nia Deviyana - 09 Januari 2020 20:14 WIB
    Enam Kondisi Ekonomi Iran
    Ilustrasi mata uang Iran, rial. Foto: AFP.
    Washington: Iran akhirnya melakukan serangan balasan ke dua pangkalan militer di Irak yang menampung pasukan militer Amerika Serikat (AS), menyusul tewasnya jenderal tinggi Iran Qassem Soleimani pada serangan udara AS pekan lalu.

    Hal ini sempat membuat investor khawatir perang akan benar-benar terjadi, yang terlihat dari menurunnya indeks saham di AS maupun Asia pada Rabu, 8 Januari 2020.

    Namun, indeks saham kembali merekah setelah pernyataan Trump yang memberi sinyal tidak akan kembali menyerang Teheran.

    Di samping pernyataan Trump, kondisi perekonomian Iran yang melemah selama bertahun-tahun menjadi alasan konflik tidak akan berlanjut semakin panas.

    Banyak ahli geopolitik menilai ekonomi Iran yang tidak cukup baik, ditambah sanksi ekonomi yang akan diberikan AS, membuat negara tersebut akan memikirkan ulang rencana perang.

    Melansir CNBC International, Kamis, 9 Januari 2019, enam hal ini menjelaskan keadaan ekonomi Iran.

    1. Ekonomi berada dalam resesi

    Sanksi ekonomi yang akan diberikan AS bakal membuat perekonomian Iran semakin terpuruk.
    Sebelumnya, AS telah berkali-kali memberikan sanksi kepada Iran.

    AS memberikan sanksi ekonomi, perdagangan, hingga militer kepada Iran. Sanksi ekonomi diatur oleh kantor Kontrol Aset Asing AS yang salah satunya melarang penjualan dan perbaikan komponen pesawat kepada perusahaan penerbangan Iran.

    Sanksi terhadap Iran sudah dijatuhkan sejak Presiden AS Jimmy Carter pada November 1979 setelah penyanderaan warga negara AS di Teheran. Perintah eksekutif AS juga membekukan sekitar USD12 miliar aset Iran, termasuk deposito bank, emas, dan properti.

    Adapun pada pemerintahan Trump, Iran dihujani sanksi sejak November 2018, termasuk memberikan sanksi kepada badan antariksa sipil serta dua organisasi penelitian Iran, dengan menuding fasilitas tersebut digunakan untuk memutakhirkan program rudal balistik Teheran.

    Sanksi Departemen Keuangan AS menargetkan Badan Antariksa Iran, Pusat Penelitian Antariksa Iran serta Institut Penelitian Austronautika. Sanksi-sanksi yag diberikan Washington ke Iran membuat mata uang negara tersebut tertekan dan jatuh ke dalam resesi.

    2. Sektor minyak menurun

    Menurut data Bank Dunia, Iran diperkirakan memiliki cadangan minyak mentah terbesar keempat di dunia. Sementara sebagian besar pertumbuhan ekonomi negara dan pendapatan pemerintah bergantung pada penjualan minyak mentah.

    Namun, sejak Donald Trump mengancam sejumlah perusahaan dan negara untuk menghentikan pembelian minyak mentah dari Teheran, Dana Moneter Internasional memperkirakan produksi dan ekspor minyak mentah Iran menurun.

    3. Perdagangan menyusut

    Penurunan ekspor minyak Iran dan pembatasan internasional pada sektor seperti perbankan, pertambangan, dan maritim, telah menyebabkan total ekspor negara tersebut menyusut. IMF memperkirakan ekspor negara itu bisa jatuh di bawah impornya pada 2019 dan 2020.

    4. Meningkatnya biaya hidup

    Bank Sentral Iran telah mempertahankan nilai tukar di level 42 ribu real Iran per USD. Tetapi mata uang ini jauh lebih lemah dari itu di pasar tidak resmi, melemah menjadi 140 ribu real per USD bulan ini di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS, menurut situs web valuta asing Bonbast.com.

    Mata uang lokal yang lemah berkontribusi pada tingkat inflasi yang tinggi di Iran, yang menurut Bank Dunia meningkat hingga 52 persen pada Mei 2019. Biaya hidup yang semakin mahal membuat kondisi semakin tertekan di tengah minimnya penyerapan tenaga kerja.

    5. Tingkat pengangguran tinggi

    Salah satu penyebab utama dari ekonomi yang stagnan atau menurun di Iran adalah meningkatnya tingkat pengangguran.

    Bank Dunia mengatakan kurangnya kesempatan kerja dapat memperburuk kemiskinan di Iran. Tercatat bahwa kemiskinan negara, diukur dengan proporsi orang yang daya belinya di bawah USD5,50 per hari, telah meningkat dari 8,1 persen pada 2013 menjadi 11,6 persen pada 2016.

    6. Pelebaran defisit fiskal

    Pemerintah Iran memiliki keuangan terbatas untuk membuat kebijakan fiskal yang bisa mengangkat ekonomi negara itu.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id