Ekonomi Global Diharapkan Tumbuh Lebih Cepat di 2020

    Angga Bratadharma - 25 Desember 2019 14:04 WIB
    Ekonomi Global Diharapkan Tumbuh Lebih Cepat di 2020
    Ilustrasi. FOTO: RBS
    New York: Pertumbuhan ekonomi global diharapkan bisa terakselerasi lebih cepat di 2020, seperti yang terjadi di 2010-an. Tidak ditampik, ekonomi dunia sudah menunjukkan adanya tanda-tanda perlambatan yang artinya pola pertumbuhan ekonomi mulai berubah sehingga harus ada antisipasi dari sejumlah risiko yang bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

    Adapun Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) baru-baru ini menurunkan ekspektasi pertumbuhan global untuk 2019 menjadi tiga persen atau terendah sejak krisis keuangan pada 2008/2009, sebagian besar akibat dampak dari ketegangan perdagangan AS-Tiongkok.

    Selama 10 terakhir, selusin negara telah berakhir dengan tingkat PDB riil yang lebih rendah termasuk negara-negara seperti Yunani, Iran dan Libya. Sementara Ukraina dan Italia bergerak datar. Dalam catatan, Kepala Ekonom Economist Intelligence Unit (EIU) Simon Baptist menyarankan dunia sekarang harus terbiasa dengan ekonomi Tiongkok yang juga melambat.

    "Saya berharap pertumbuhan setengah lebih cepat di 2020 seperti di 2010-an. Negara-negara yang tumbuh paling cepat adalah di Afrika (meskipun bukan Nigeria) dan Asia selatan dan tenggara, dengan Bangladesh, Kenya serta Filipina semuanya melihat dekade yang kuat," kata Baptist, seperti dikutip dari CNBC, Rabu, 25 Desember 2019.

    Negara-negara dengan penuaan yang cepat dan penurunan populasi, seperti Jepang, Italia dan Portugal, dapat mengharapkan pertumbuhan mendekati nol. Sementara penuaan yang lebih luas kemungkinan akan menyebabkan kesulitan seperti memperkuat mata uang dan meningkatnya kebutuhan perawatan di pasar negara berkembang seperti Tiongkok, Rusia, dan Thailand.

    Tren lain yang diramalkan Baptis adalah kelanjutan dari ketidakstabilan politik, dengan meningkatnya literasi dan turunnya biaya komunikasi yang merevolusi lanskap politik di pasar-pasar baru. "Seperti yang ditunjukkan oleh protes minggu ini atas undang-undang anti-Muslim di India," tuturnya.

    "Kebijakan yang dihasilkan dari perubahan komunikasi ini tidak selalu memfasilitasi kesejahteraan atau pertumbuhan," tambahnya.

    Perkembangan penting lainnya yang diantisipasi EIU adalah divergensi berkelanjutan antara AS dan Tiongkok, dengan perbedaan-perbedaan yang tak tertahankan. "Kedua belah pihak akan menempatkan perusahaan dan negara lain ke posisi yang tidak nyaman sebagai hasilnya," pungkas Baptist.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id