Bursa Saham AS Jatuh di Tengah Pidato Powell

    Angga Bratadharma - 09 Oktober 2019 07:12 WIB
    Bursa Saham AS Jatuh di Tengah Pidato Powell
    Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
    New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) berakhir lebih rendah secara signifikan pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Pelemahan terjadi karena investor mencerna pidato terbaru Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan sejumlah data ekonomi.

    Mengutip Xinhua, Rabu, 9 Oktober 2019, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 313,98 poin atau 1,19 persen menjadi 26.164,04. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 45,73 poin atau 1,56 persen menjadi 2.893,06. Indeks Komposit Nasdaq turun 132,52 poin atau 1,67 persen menjadi 7.823,78.

    Semua dari 11 sektor S&P 500 utama ditutup lebih rendah, dengan sektor keuangan turun 2,02 persen, kelompok berkinerja terburuk. Sementara Powell mengungkapkan bank sentral Amerika Serikat akan mulai memperluas neraca lagi. Hal itu dikatakan Powell pada pertemuan tahunan National Association for Business Economics.

    Adapun kebijakan moneter ke depan, Powell menambahkan, kebijakan tidak pada jalur yang telah ditentukan. "Dan the Fed akan bertindak sewajarnya untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," ucap Powell.

    Di sisi ekonomi, indeks harga produsen (PPI) AS, yang mengukur inflasi sebelum mencapai konsumen, turun sebanyak 0,3 persen pada September. Kondisi itu menandai penurunan terbesar dalam delapan bulan, Departemen Tenaga Kerja melaporkan.

    Sementara itu, optimisme di kalangan pemilik usaha kecil AS melemah pada September terutama karena dampak dari tarif dan ketidakpastian tentang ekonomi masa depan, menurut laporan dari Federasi Nasional Bisnis Independen (NFIB). Indeks Optimisme Bisnis Kecil NFIB mencatat 101,8 pada September atau turun 1,3 poin dari 103,1 pada Agustus.

    Adapun ekspektasi pasar untuk penurunan suku bunga acuan di akhir bulan ini mencapai lebih dari 80 persen, menurut alat FedWatch CME Group. Di sisi lain, Wall Street dengan hati-hati menunggu putaran baru pembicaraan perdagangan AS-Tiongkok, yang akan dimulai pada akhir pekan ini.

    Di sisi lain, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global dapat berubah menjadi pelambatan yang lebih masif tanpa tindakan untuk menyelesaikan konflik perdagangan dan mendukung pertumbuhan.

    "Fokus pasar tetap pada ketegangan perdagangan dan kekhawatiran permintaan minyak, mengabaikan ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dan produksi OPEC yang lebih rendah pada September. Risiko resesi yang meningkat telah membatasi kenaikan harga minyak," kata analis minyak UBS Giovanni Staunovo.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id