Perang Dagang, Pakar: Pilihan Terbaik Tiongkok Menunggu

    Angga Bratadharma - 31 Agustus 2019 20:01 WIB
    Perang Dagang, Pakar: Pilihan Terbaik Tiongkok Menunggu
    Ilustras. (FOTO: scmp
    Beijing: Pakar keuangan menilai pilihan terbaik Tiongkok dalam perang dagang adalah menunggu. Hal itu karena ekonomi domestik yang sangat besar yang dimiliki Beijing semakin didorong oleh kekuatan konsumennya bukan dari aspek perdagangan. Sejauh ini, perang dagang masih terus berlangsung antara Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS).

    "Memainkan permainan lebih panjang mungkin pilihan terbaik dan satu-satunya yang dimiliki Tiongkok," kata Direktur Investasi Value Partners Chung Man Wing, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 30 Agustus 2019.

    Saat ketegangan perdagangan dengan AS mereda, lanjutnya, ekonomi terbesar kedua di dunia itu kemungkinan berupaya meningkatkan perekonomian domestiknya. Kondisi itu lantaran ekonomi domestik memberikan kontribusi lebih besar pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan daripada kinerja ekspor.

    "Pemerintah (Tiongkok) berusaha untuk membeli waktu. Dalam hal menggunakan jendela guna merestrukturisasi ekonomi domestik dan sektor korporasi domestik. Perdagangan eksternal hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari ekonomi Tiongkok. Dan hanya membentuk sekitar 20 persen dari produk domestik bruto," kata Chung.

    "Dan sebagian besar dari itu (kontribusi perdagangan) sebenarnya bukan untuk AS sehingga Tiongkok mampu memainkan permainan panjang, dan memainkannya dengan bail," tambahnya.

    Sementara itu, Deutsche Bank mengatakan dalam laporannya sebanyak 80 persen dari ekspor Tiongkok pergi ke negara-negara selain Amerika Serikat. Sedangkan perang dagang yang berkepanjangan antara Tiongkok dengan AS telah berlangsung selama lebih dari satu tahun, dan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

    "Kami menggambarkan strategi Tiongkok saat ini sebagai daya tahan. Tujuan utamanya adalah menjaga ketahanan ekonomi Tiongkok, sambil mengambil tarif AS yang lebih tinggi sebagai fakta," kata Ekonom Deutsche Yi Xiong dalam laporannya.

    Adapun Tiongkok mengatakan pada Jumat lalu bahwa mereka akan mengenakan tarif baru atas barang-barang Amerika senilai USD75 miliar. Sebagai balasan, Presiden AS Donald Trump berencana menaikkan tarif impor senilai USD550 miliar dari Tiongkok.

    Sementara itu, Jim Cramer dari CNBC mengatakan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghapus beberapa item dari daftar tarif Tiongkok yang baru menandakan Trump ingin menghentikan penurunan di pasar saham. Tidak ditampik, pasar saham Wall Street sudah beberapa kali jatuh akibat kebijakan tarif yang diberlakukan AS.
     
    "Saya pikir ini adalah Presiden yang mengatakan, 'Saya tidak ingin pasar saham turun lagi'," kata Cramer, menanggapi penundaan tarif baru dan pergerakan Dow Jones Industrial Average yang sempat meroket di pembukaan dan tiba-tiba turun ke lebih 400 poin atau hampir dua persen.
     



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id