ADB: Tiongkok Tetap Pasar Obligasi Terbesar di Asia Timur

    Medcom - 23 November 2019 14:05 WIB
    ADB: Tiongkok Tetap Pasar Obligasi Terbesar di Asia Timur
    Ilustrasi. AFP PHOTO/GREG BAKER
    Manila: Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menyebutkan Tiongkok tetap muncul sebagai pasar obligasi terbesar di Asia Timur dengan nilai sebesar USD11,5 triliun. Adapun nilai tersebut setara dengan 75,4 persen dari total obligasi yang ada di Asia Timur.

    Laoran terbaru dari Asia Bond Monitor ADB mengatakan total obligasi yang beredar di pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur yang berkembang mencapai USD15,2 triliun pada akhir September atau 3,1 persen secara kuartal-ke-kuartal dan tumbuh sebanyak 13 persen secara tahun-ke-tahun.

    "Tiongkok tetap menjadi pemimpin kawasan dalam hal ukuran pasar obligasi dengan bagiannya dari total regional naik menjadi 75,4 persen," kata laporan ADB, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 23 November 2019.

    Laporan ADB itu menambahkan pasar obligasi Korea Selatan menyumbang 13,1 persen dari total regional. Secara kolektif, obligasi yang beredar dari pasar anggota Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara menyumbang 9,9 persen.

    Bank yang berbasis di Manila, yang memiliki 68 anggota dan 49 di antaranya berasal dari kawasan tersebut sejak didirikan pada 1966, mengatakan Indonesia memiliki pasar obligasi mata uang lokal yang paling cepat berkembang di kawasan ini selama kuartal ketiga, didorong oleh penerbitan besar surat berharga dan obligasi .

    "Pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur yang sedang tumbuh membukukan pertumbuhan yang stabil selama kuartal ketiga 2019 meskipun ada ketidakpastian perdagangan yang terus-menerus dan adanya penurunan ekonomi global," kata laporan ADB.

    Di sisi lain, negosiasi perdagangan berisiko tinggi antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mengalami masalah ketika kedua negara berusaha untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan terbatas. Tidak dipungkiri, kondisi tersebut bakal menghilangkan angin segar di pasar keuangan dan pasar saham yang kini perlahan mulai membaik.
     
    "AS berusaha untuk mengamankan konsesi yang lebih kuat dari Tiongkok untuk mengatur perlindungan kekayaan intelektual dan guna menghentikan praktik transfer teknologi paksa sebagai imbalan untuk menarik kembali beberapa tarif," mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
     
    Kedua belah pihak mengalami kebuntuan meski mereka mengatakan pada prinsipnya memiliki kesepakatan perjanjian kurang dari sebulan yang lalu. The Wall Street Journal pertama kali melaporkan hambatan dalam pembicaraan perdagangan, dengan Tiongkok ragu untuk berkomitmen atas sejumlah produk pertanian tertentu dalam teks kesepakatan potensial.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id