Goldman Kecewa dengan Kesepakatan Perdagangan Fase Satu

    Angga Bratadharma - 14 Desember 2019 12:29 WIB
    Goldman Kecewa dengan Kesepakatan Perdagangan Fase Satu
    Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Brendan Smialowski/AFP
    New York: Kesepakatan perdagangan fase satu yang telah lama ditunggu-tunggu antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akhirnya disepakati dan menjadi berita utama yang memberi stimulus terhadap pasar keuangan dan pasar saham. Namun, Goldman Sachs, sebagai salah satu bank terbesar di AS, tidak begitu senang dengan hal itu.

    Sebagai bagian dari kesepakatan terbatas itu, AS mengatakan akan mempertahankan tarif 25 persen untuk sekitar USD250 miliar impor Tiongkok. Selain itu, akan mengurangi tarif pada USD120 miliar produk Tiongkok menjadi 7,5 persen. Kepala Ekonom Goldman Jan Hatzius menilai kesepakatan itu lebih kecil dari yang diharapkan.

    "Pengurangannya hanya setengah dari asumsi dasar kami (terkait kesepakatan dagang). Masih ada beberapa ketidakpastian mengenai status perjanjian ini, karena terlihat sekali lagi bahwa beberapa rincian teknis dan hukum masih berubah-ubah," kata Hatzius, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan, kedua belah pihak berharap menandatangani kesepakatan pada minggu pertama Januari 2020 di Washington. Meski demikian, dia memperingatkan, Administrasi Trump tidak menjanjikan pengembalian pemberlakukan tarif di masa depan.

    Selain itu, Lighthizer mengaku, AS akan lebih bijak untuk bersikap skeptis pada apakah Tiongkok akan memenuhi perjanjian tersebut atau tidak. Lighthizer menambahkan kesepakatan dagang fase satu membahas mengenai kekayaan intelektual, transfer teknologi, pertanian, jasa keuangan, mata uang, dan valuta asing.

    "Termasuk komitmen oleh Tiongkok bahwa Tiongkok akan melakukan pembelian tambahan besar atas barang dan jasa AS di Amerika Serikat pada tahun-tahun yang akan datang," kata Lighthizer.

    Namun demikian, AS dan Tiongkok tidak memberikan rincian secara spesifik mengenai perubahan reformasi tersebut. "Baik pejabat AS maupun Tiongkok tidak secara spesifik tentang apa reformasi itu, juga tidak ada rincian yang diberikan mengenai ukuran pembelian pertanian Tiongkok dari AS," kata Hatzius.

    Pejabat Tiongkok mengatakan Beijing akan meningkatkan pembelian pertanian secara signifikan tanpa menentukan berapa banyak. Sementara itu, Lighthizer mengatakan, Tiongkok berjanji untuk membeli total USD40 miliar produk pertanian. Pembelian tersebut akan dilakukan selama periode dua tahun, menurut Direktur Dewan Ekonomi Nasional Larry Kudlow.

    Meskipun masih kekurangan rincian, banyak analis mengatakan kesepakatan itu positif untuk saham karena dapat meningkatkan kepercayaan bisnis dan yang seharusnya mengarah pada pengeluaran investasi yang lebih besar dan laba perusahaan yang lebih tinggi.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id