Korban Tewas Korona Bertambah, Harga Minyak Dunia Ambruk

    Antara - 28 Januari 2020 08:05 WIB
    Korban Tewas Korona Bertambah, Harga Minyak Dunia Ambruk
    Ilustrasi. FOTO: Xinhua
    New York: Minyak mentah berjangka jatuh sekitar dua persen ke posisi terendah tiga bulan pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Pelemahan itu terjadi karena angka kematian akibat virus vorona Tiongkok meningkat, membatasi perjalanan dan memicu ekspektasi perlambatan permintaan minyak.

    Mengutip Antara, Selasa, 28 Januari 2020, minyak mentah berjangka Brent kehilangan USD1,37 atau 2,3 persen menjadi ditutup pada USD59,32 per barel, tingkat terendah sejak 21 Oktober tahun lalu. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun USD1,05 atau 1,9 persen, menjadi USD53,14 per barel, tingkat terendah sejak 2 Oktober tahun lalu.

    Bursa saham global, yang cenderung diikuti oleh harga minyak, juga merosot karena investor semakin cemas tentang krisis yang meluas. Permintaan melonjak untuk aset-aset safe-haven, seperti yen Jepang dan surat utang pemerintah.

    Jumlah korban dari virus korona naik menjadi 81 orang dan Pemerintah Tiongkok memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari, berusaha menjaga sebanyak mungkin orang di rumah untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

    Semakin banyak penutupan kota di Tiongkok dan penerbangan dibatalkan mengancam salah satu wilayah pertumbuhan permintaan minyak global yang paling stabil, dengan bahan bakar jet menyumbang sekitar 15 persen dari pertumbuhan permintaan di Tiongkok, kata RBC Capital Markets dalam sebuah laporan.

    "Namun, kekhawatiran atas pelonggaran konsumsi bahan bakar jet saat ini terbatas di Tiongkok,"kata RBC.

    Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mencoba untuk mengecilkan dampak virus pada Senin 27 Januari, dengan Riyadh, pemimpin OPEC secara de-facto, mengatakan kelompok itu dapat menanggapi setiap perubahan permintaan.

    Sumber OPEC mengatakan ada diskusi awal di antara OPEC+ untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak saat ini di luar Maret, dan kemungkinan pemotongan lebih dalam juga merupakan pilihan, jika ada kebutuhan, dan jika penyebaran virus Tiongkok berdampak pada permintaan minyak.

    Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan dia merasa yakin virus baru akan teratasi. OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah menahan pasokan untuk mendukung harga minyak selama hampir tiga tahun.

    Dan pada 1 Januari meningkatkan pengurangan produksi yang disepakati sebesar 500.000 barel per hari (bph) menjadi 1,7 juta barel per hari hingga Maret. Harga minyak mentah Brent telah turun hampir seperlima sejak lonjakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran secara singkat mengangkat harga di atas 70 dolar AS per barel pada 8 Januari.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id