Permintaan Global Melemah, Harga Minyak Dunia Surut

    Angga Bratadharma - 23 Agustus 2019 08:03 WIB
    Permintaan Global Melemah, Harga Minyak Dunia Surut
    Ilustrasi (FREDERIC J. BROWN/AFP)
    New York: Harga minyak dunia ditutup lebih rendah pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Pelemahan terjadi karena pasar telah dibayangi oleh kekhawatiran tentang melemahnya permintaan minyak mentah global. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih memberikan tekanan terhadap gerak harga minyak.

    Mengutip Xinhua, Jumat, 23 Agustus 2019, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober turun USD0,33 menjadi USD55,35 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun USD0,38 menjadi USD59,92 per barel di London ICE Futures Exchange.

    DNB Markets, bank investasi Norwegia, memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak jadi 800 ribu barel per hari (bph) pada 2019 atau turun dari 1,1 juta bph sebelumnya. Ini juga merevisi turun perkiraan pertumbuhan permintaan minyak di 2020 menjadi 1,1 juta barel per hari, dari sebelumnya 1,6 juta barel per hari.

    Sementara itu, DNB Markets juga memangkas estimasi harga patokan minyak Brent menjadi USD66 untuk 2019, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar USD73. Kondisi itu karena prospeknya yang hangat untuk pertumbuhan ekonomi global, yang akan membebani permintaan minyak global.

    Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena investor memantau simposium ekonomi tahunan Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming. Di sisi lain, perang dagang yang sedang terjadi masih memberikan beban terhadap gerak pasar saham.

    Indeks Dow Jones Industrial Average naik 49,51 poin atau 0,19 persen menjadi 26.252,24. Sedangkan S&P 500 turun 1,48 poin atau 0,05 persen menjadi 2.922,95. Kemudian indeks Komposit Nasdaq turun 28,82 poin atau 0,36 persen menjadi 7.991,39.

    Pasar saham berharap bahwa Ketua Federal Reserve Jerome Powell akan mengklarifikasi sikap bank sentral AS mengenai penurunan suku bunga dan mengonfirmasi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif dalam simposium. Adapun Powell dijadwalkan menyampaikan pidato pada Jumat waktu setempat.

    The Fed memotong suku bunga 25 basis poin pada akhir Juli untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan 2008. Sementara mengutip ketidakpastian ekonomi dan perdagangan, Powell menekankan pada konferensi pers setelah pertemuan bulan lalu penurunan suku bunga hanya penyesuaian siklus tengah daripada awal serangkaian kebijakan yang lebih akomodatif.

    Menurut risalah pertemuan bank sentral yang dirilis Juli, para pejabat the Fed terbagi atas apakah akan memotong suku bunga acuan atau tidak. Ekspektasi pasar untuk penurunan suku bunga lagi pada September berada di 93,5 persen, menurut alat FedWatch Chicago Mercantile Exchange Group.

    Sementara itu, indeks manajer pembelian manufaktur AS (PMI) adalah 49,9 pada Agustus atau turun dibandingkan dengan posisi 50,4 pada Juli dan di bawah ambang batas netral, 50,0 untuk pertama kalinya sejak September 2009, menurut IHS Markit. Setiap pembacaan di bawah 50 menandakan adanya kontraksi.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id