Pakar Sebut AS Ikut Campur Urusan Ekonomi Tiongkok

    Husen Miftahudin - 31 Agustus 2019 18:03 WIB
    Pakar Sebut AS Ikut Campur Urusan Ekonomi Tiongkok
    Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP
    New York: Seorang profesor di Universitas Cornell menyebutkan Tiongkok menyalahkan kekuatan Barat karena ikut campur dalam protes Hong Kong. Bahkan, gangguan yang dirasakan dapat menyebabkan pengerasan posisi Tiongkok. Sejauh ini, pihak Beijing meminta Washington tidak ikut campur karena bisa berdampak terhadap perekonomian.

    "Apa yang terjadi saat ini adalah narasi sedang menumpuk di Tiongkok. Bahwa AS dan negara-negara barat lainnya ikut campur dalam urusan ekonomi dan kebijakan Tiongkok, dan mencampuri apa yang dilihat Tiongkok sebagai urusan politik dalam negerinya, yaitu Hong Kong," kata Profesor Kebijakan Perdagangan Eswar Prasad, di Cornell University di New York.

    "Hal itu berpotensi mengarah pada tindakan yang lebih cepat oleh Pemerintah Tiongkok untuk memadamkan protes yang berkelanjutan di Hong Kong. Terutama menjelang Hari Nasional ke-70 negara itu pada 1 Oktober," kata Prasad, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 31 Agustus 2019.

    Sejak awal Juni, protes yang semakin keras telah mencengkeram Hong Kong, bekas koloni Inggris yang kembali ke Pemerintahan Tiongkok pada 1997. Demonstrasi pada awalnya didorong oleh pihak oposisi terhadap RUU yang diusulkan yang memungkinkan orang-orang di Hong Kong diekstradisi ke daratan Tiongkok.

    Tetapi sejak itu, situasi dan kondisi justru kian berkembang dan menjadi gerakan yang lebih luas yang menyerukan demokrasi. Namun protes Hong Kong bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi pemerintah pusat di Tiongkok. Beijing juga telah dikunci dalam perselisihan dagang dengan AS selama lebih dari satu tahun.

    Bahkan, perselisihan itu meningkat minggu lalu ketika kedua belah pihak mengenakan tarif baru pada barang impor masing-masing. "Resolusi yang moderat untuk kedua masalah, ketegangan perdagangan dan protes di Hong Kong," ungkap Prasad.

    Awal bulan ini, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut Tiongkok sebagai 'rezim preman' karena mengungkapkan foto-foto dan detail pribadi seorang diplomat AS yang bertemu dengan para pemimpin mahasiswa gerakan pro-demokrasi Hong Kong.

    Pihak berwenang Tiongkok telah meminta AS untuk menjelaskan sifat hubungan mereka, dan mengapa kontak itu dilakukan sejak awal. Bulan lalu, Beijing menyuruh Inggris agar melepaskan tangannya dari Hong Kong.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id