Wall Street Tertekan Dipicu Kekhawatiran Resesi

    Antara - 21 Agustus 2019 07:01 WIB
    Wall Street Tertekan Dipicu Kekhawatiran Resesi
    Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)
    New York: Saham-saham di Wall Street lebih rendah pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Kondisi itu terjadi karena investor mempertimbangkan laporan laba perusahaan dan kekhawatiran kemungkinan resesi ekonomi.

    Mengutip Antara, Rabu, 21 Agustus 2019, indeks Dow Jones Industrial Average turun 173,35 poin atau 0,66 persen, menjadi berakhir di 25.962,44 poin. Sementara itu, Indeks S&P 500 berkurang 23,14 poin atau 0,79 persen, menjadi ditutup di 2.900,51 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir turun 54,25 poin atau 0,68 persen, menjadi 7.948,56 poin.

    Home Depot melaporkan pendapatan kuartalan sebesar USD30,8 miliar atau naik 1,2 persen dari periode yang sama tahun lalu, dengan laba bersih per saham dilusian mencapai USD3,17. Sementara labanya melampaui ekspektasi, pendapatannya jauh dari perkiraan, menurut data Refinitiv.

    Pekan lalu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun secara singkat turun di bawah imbal hasil surat utang pemerintah bertenor dua tahun. Inversi kurva imbal hasil sering dilihat sebagai sinyal bahwa resesi akan segera terjadi.

    Pada akhir Juli, kekhawatiran tentang ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global mendorong Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan 2008. Ekonom pemenang Nobel Robert Shiller mengatakan langkah bank sentral untuk memangkas suku bunga menunjukkan rasa waspada.

    Semua dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor keuangan dan material masing-masing turun 1,4 persen dan 1,22 persen, merupakan dua pencatat penurunan terbesar. Kekhawatiran resesi ekonomi tidak ditampik telah memberikan efek negatif terhadap pasar saham di Amerika Serikat (AS).

    Sementara itu, Amerika Serikat mengatakan akan memperpanjang penangguhan hukuman yang mengizinkan Huawei Technologies, Tiongkok, untuk membeli komponen dari perusahaan AS, menandakan sedikit pelunakan dari konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

    "Ini adalah surut dan mengalirnya perang dagang AS-Tiongkok dan beberapa harapan stimulus ekonomi yang datang di pasar-pasar ini, termasuk potensi stimulus fiskal oleh Jerman," kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital di New York.

    Kekhawatiran atas tingkat permintaan minyak keseluruhan terus membebani harga minyak mentah. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada tahun ini sebesar 40.000 barel per hari (bph) menjadi 1,10 juta barel per hari dan mengindikasikan pasar akan mengalami sedikit surplus pada 2020.

    Reli di pasar ekuitas di seluruh dunia karena ekspektasi yang meningkat bahwa ekonomi global akan mengambil tindakan terhadap perlambatan pertumbuhan, juga memberikan dukungan terhadap harga minyak.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id