IPO ke-2, Alibaba Diperkirakan Raup Dana Rp182 Triliun

    Nia Deviyana - 15 November 2019 18:10 WIB
    IPO ke-2, Alibaba Diperkirakan Raup Dana Rp182 Triliun
    Ilustrasi Alibaba. Foto: AFP.
    Beijing: Raksasa e-commerce asal Tiongkok, Alibaba, dikabarkan telah mengajukan listing sekunder di bursa saham Hong Kong. Ini menjadi penawaran saham kedua bagi Alibaba setelah sebelumnya sudah tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) atau Bursa Saham AS.

    Perusahaan yang pernah dipimpin miliuner Jack Ma itu diperkirakan bisa mengumpulkan dana hingga USD13,8 miliar atau Rp182 triliun (kurs Rp14.000 per USD) pada aksi korporasinya kali ini.

    Dilansir CNBC International, Jumat, 15 November 2019, Alibaba akan menerbitkan 500 juta saham, dan kemungkinan 75 juta green shoe.

    Green shoe adalah penambahan jumlah penawaran saham oleh penjamin emisi ketika melakukan penawaran saham. Tujuan green shoe biasanya untuk mengurangi volatilitas (gejolak) harga saham setelah pencatatan saham di bursa.

    Adapun dari 500 juta saham itu, 12,5 juta lembar akan dicadangkan untuk investor ritel. Alibaba memiliki opsi untuk meningkatkan porsi yang tersedia untuk investor ritel hingga 50 juta saham atau 10 persen dari total penawaran.

    Lebih lanjut, Alibaba mengatakan saham ritel akan dibanderol dengan harga tidak lebih dari 188 dolar Hong Kong (sekitar USD24,01). Namun, sisa saham untuk investor institusi, bisa dihargai lebih tinggi dari itu.

    Dengan harga 188 dolar Hong Kong per saham, dan bila opsi green shoe dijalankan, perusahaan bisa mendapatkan dana sekitar USD13,8 miliar.

    Alibaba akan menetapkan harga penawaran final pada 20 November waktu Hong Kong, dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti harga penutupan American Depositary Share (ADS) di Bursa Saham New York pada atau sebelum tanggal perdagangan terakhir, dan permintaan investor selama proses pemasaran.

    Saham Alibaba di Bursa saham Hong Kong diperkirakan akan mulai diperdagangkan pada 26 November 2019.

    Rencana ke Depan

    Alibaba akan menggunakan hasil penawaran untuk implementasi strategi mendorong pertumbuhan perusahaan, memberdayakan bisnis untuk memfasilitasi transformasi digital, serta berinovasi dan berinvestasi untuk jangka panjang.

    Perusahaan terus berinvestasi di berbagai bidang mulai dari pengiriman makanan hingga bisnis cloud computing yang tumbuh cepat, yang dipandang sebagai bagian penting dari masa depannya.

    "Ketika Alibaba Group go public pada 2014, dengan sangat menyesal kami melewatkan Hong Kong. Hong Kong adalah salah satu pusat keuangan paling penting di dunia," kata CEO dan ketua Alibaba Daniel Zhang.

    "Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak reformasi yang menggembirakan di pasar modal Hong Kong. Selama masa perubahan yang berkelanjutan ini, kami terus percaya bahwa masa depan Hong Kong tetap cerah. Kami berharap kami dapat berkontribusi, dan berpartisipasi di masa depan Hong Kong."

    Penawaran saham Alibaba di Hong Kong diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar tahun ini, setelah Uber yang mengumpulkan lebih dari USD8 miliar pada Mei lalu. Ini juga akan menjadi dorongan besar bagi pasar Hong Kong yang telah mengalami perlambatan bisnis di tengah protes pro-demokrasi yang sedang berlangsung, yang juga meningkat dalam beberapa hari terakhir.

    Alibaba mengatakan New York akan tetap menjadi tempat listing utama. Pencatatannya di AS masih menjadi IPO terbesar dalam sejarah yang mengumpulkan USD25 miliar.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id