Tiongkok Pangkas Kepemilikan Utang AS ke Level Terendah

    Angga Bratadharma - 18 Mei 2019 18:03 WIB
    Tiongkok Pangkas Kepemilikan Utang AS ke Level Terendah
    Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
    Beijing: Ketika ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat, Tiongkok memutuskan untuk menjual kepemilikan surat utang AS dengan laju tercepat dalam sekitar dua tahun selama Maret. Pemilik terbesar atas utang AS itu mengurangi tingkat utangnya sebesar USD20,5 miliar.

    Penurunan itu membuat total kepemilikan surat utang AS oleh Tiongkok menjadi USD1,12 triliun. Namun langkah tersebut merupakan pola penurunan yang terus berlanjut karena kedua belah pihak tidak dapat menuntaskan perjanjian perdagangan jangka panjang. Sebaliknya keduanya terlibat dalam pertarungan tarif yang semakin meningkat di beberapa hari terakhir.

    Dalam periode 12 bulan yang berakhir Maret, bulan terakhir di mana data tersedia, persediaan surat utang Pemerintah AS, obligasi, dan tagihan AS turun USD67,2 miliar atau 5,6 persen. Totalnya turun sekitar USD200 miliar sejak puncaknya pada 2012 dan sekarang mewakili tujuh persen dari total utang AS yang terutang, dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 12 persen.

    Adapun ancaman untuk tidak membeli surat utang AS atau terlibat dalam penjualan langsung telah mengguncang pasar obligasi sebelumnya. Selain tindakan hukuman yang mungkin dilakukan Tiongkok, diperkirakan Tiongkok juga telah mengurangi kepemilikannya dalam upaya untuk mempertahankan mata uangnya.

    Mengutip CNBC, Sabtu, 18 Mei 2019, tindakan yang lebih agresif untuk memotong kepemilikan dianggap sebagai opsi yang dapat semakin memperburuk negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung. Namun, dampak dari setiap gerakan semacam itu tidak jelas.

    UBS memperkirakan bahwa jika pengurangan kepemilikan surat utang terjadi secara bertahap, kemungkinan akan menghasilkan kenaikan dalam benchmark surat utang 10 tahun paling banyak 0,4 poin. Tidak ditampik, penjualan surat utang oleh Tiongkok bisa memberikan efek tersendiri.

    Di sisi lain, ekonomi Tiongkok telah menunjukkan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan setelah adanya pemberian stimulus fiskal dan upaya pengurangan utang di negara itu. Adapun kekhawatiran telah muncul sejalan dengan perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dengan AS.
     
    "Saya pikir Tiongkok masih memiliki peluang yang layak untuk mendapatkan pertumbuhan di atas enam persen tahun ini, yang merupakan target pemerintah. Targetnya adalah 6-6,5 persen," kata Kepala Ekonom Tiongkok dan kepala Riset Ekonomi Asia UBS Tao Wang.

    "Pemerintah telah melonggarkan kebijakan dengan lebih banyak dukungan fiskal, dengan pemotongan pajak yang sangat besar, (terhitung) sekitar dua persen dari PDB. Selain itu dengan lebih banyak belanja infrastruktur dalam pipa, termasuk lebih banyak pelonggaran moneter dan sebagainya," tambahnya.

    Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok tercatat di angka 6,4 persen secara tahun ke tahun (YoY) di kuartal pertama tahun ini atau melampaui perkiraan pasar dan setara dengan kuartal sebelumnya. Tentu kondisi semacam ini diharapkan bisa terus membaik di masa-masa mendatang.
     
    Wang mengatakan bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok sejak awal tahun ini terus berlanjut, terutama di sektor industri dan properti, seperti yang ditunjukkan oleh statistik domestik baru-baru ini. Keuntungan perusahaan industri besar Tiongkok melonjak 13,9 persen YoY menjadi sekitar USD88 miliar pada Maret, menurut Biro Statistik Nasional.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id