comscore

Lagi, Ada Pengembang Properti Tiongkok Gagal Bayar

Ade Hapsari Lestarini - 06 Desember 2021 16:18 WIB
Lagi, Ada Pengembang Properti Tiongkok Gagal Bayar
Ilustrasi industri properti Tiongkok. Foto: AFP/Greg.
Beijing: Industri properti Tiongkok kembali dihadapkan dengan kasus gagal bayar. Kali ini, pengembang asal Tiongkok Sunshine 100 China Holdings telah gagal membayar utang dan bunga sebesar USD178,9 juta atau setara Rp2,5 triliun (kurs Rp14.440 per USD).

Adapun utang dan bunga ini jatuh tempo pada Minggu, 5 Desember 2021. Akibat dampak langsung dari kesengsaraan perusahaan properti di Tiongkok, mau tak mau juga berdampak pada investor di Singapura.

Sunshine 100 dijadwalkan untuk membayar kembali pokok USD170 juta dan bunga USD8,9 juta atas 10,5 persen senior notesnya yang jatuh tempo pada 2021, dan terdaftar di Singapore Exchange (SGX).

Tetapi dalam pengajuannya ke bursa Singapura pada 5 Desember, perusahaan mengatakan tidak dapat memenuhi kewajiban utang obligasinya karena masalah likuiditas yang timbul dari dampak buruk sejumlah faktor, termasuk lingkungan makroekonomi dan industri real estat.

Gagal bayar Sunshine 100 China Holdings

Melansir The Business Times, Senin, 6 Desember 2021, gagal bayar juga akan memicu provisi cross default pada instrumen utang tertentu lainnya yang dibuat oleh perusahaan dan anak perusahaan yang dapat segera jatuh tempo dan harus dibayar jika kreditur memilih untuk mempercepat.

Sunshine 100 mengatakan belum menerima pemberitahuan dari kreditur manapun terkait tindakan percepatan tersebut. Perusahaan pada Agustus lalu menangguhkan perdagangan senior green notes senilai USD219,6 juta, atau 13 persen yang jatuh tempo pada 2022, yang juga terdaftar di SGX.

Hal ini terjadi setelah perusahaan gagal membayar kembali pokok sebesar USD50,9 juta dan bunga yang masih harus dibayar USD1,5 juta. Serta di bawah obligasi konversi 6,5 persen yang terdaftar di Hong Kong senilai USD200 juta yang jatuh tempo pada 2021.

Perusahaan kemudian mengatakan default dapat memicu ketentuan cross default di bawah instrumen utang tertentu lainnya, yang dimasukkan oleh grup yang terdaftar di SGX. Ini termasuk 10,5 persen senior notes yang jatuh tempo pada 2021, serta 12 persen senior notes yang jatuh tempo pada 2023.

Biaya pinjaman yang lebih tinggi telah memukul perusahaan berutang di seluruh sektor pengembangan properti, sehingga telah menyebabkan gelombang default.

Kasus Evergrande

Kondisi ini terjadi di tengah kekhawatiran yang sedang berlangsung, ketika raksasa properti Tiongkok China Evergrande Group dapat gagal membayar kewajibannya.

Bos Evergrande Hui Ka Yan dipanggil oleh pihak berwenang Jumat lalu setelah mengatakan tidak ada jaminan kelompok itu akan memiliki dana yang cukup untuk terus melakukan kewajiban keuangannya.

Perusahaan mengatakan telah menerima permintaan di bawah kewajiban penjaminan sebesar USD260 juta.Serta menambahkan mungkin tidak dapat membayar karena krisis likuiditas sektor properti Tiongkok.(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id