comscore

Ekonomi Global Menantang, Resesi Ekonomi di 2023 Diprediksi Meningkat

Annisa ayu artanti - 29 Mei 2022 13:38 WIB
Ekonomi Global Menantang, Resesi Ekonomi di 2023 Diprediksi Meningkat
Ekonomi Global. Foto : RBS.
Jakarta: Prospek ekonomi di masa depan masih sangat menantang. Head of Investment Strategy, Bank of Singapore Eli Lee bahkan menyatakan pada 2023 resesi ekonomi akan meningkat.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi global tampaknya akan melambat tajam tahun ini, yang juga memicu kekhawatiran resesi. Untuk ekonomi global secara keseluruhan, risiko resesi pada tahun 2022 masih tampak terbatas.
Pembukaan kembali ekonomi, high savings, permintaan, dan pasar tenaga kerja yang ketat berpotensi untuk mendukung pertumbuhan global tahun ini ditengah kebijakan moneter lebih ketat dan melonjaknya harga komoditas.

"Namun, untuk tahun 2023, risiko ekonomi dunia mengalami resesi meningkat," katanya dalam ringkasan Global Outlook OCBC NISP, dikutip, Minggu, 29 Mei 2022. Resesi tersebut terjadi karena imbas kenaikan suku bunga tahun ini.

Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed mempercepat kenaikan suku bunga untuk memastikan puncak inflasi pada tahun 2022 The Fed akan menaikkan suku bunga fed fund sebesar 50 basis poin (bps) pada bulan Juni dan Juli setelah 50 bps awal pada bulan Mei menjadi 0,75-1,00 persen.

The Fed juga kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga sampai fed funds rate mencapai 2,75-3,00 persen pada awal tahun depan. Dengan demikian, kenaikan suku bunga The Fed berpotensi membatasi pertumbuhan pada tahun 2023.

Kemudian, Bank of England (BOE) kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga pada bulan Mei dan lagi baik pada bulan Juni atau Agustus sebesar 25 bps sampai suku bunga bank mencapai setidaknya 1,25 persen.

European Central Bank (ECB) juga kemungkinan akan mengajukan kenaikan suku bunga tahun ini mengingat inflasi Zona Euro berada pada rekor tertinggi.

"Kami memperkirakan ECB untuk mengakhiri pelonggaran kuantitatif selama musim panas dan mulai menaikkan suku bunga deposito dari minus 0,5 persen dengan peningkatan 25 bps setiap tiga bulan dari Juli. Sebaliknya, kami memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan mempertahankan suku bunga depositonya tidak berubah pada minus 0,1 persen karena inflasi, tidak termasuk biaya makanan dan energi, tetap jauh dibawah target 2 persen di Jepang," jelasnya.

Sementara PBOC diperkirakan akan menahan diri dari kenaikan suku bunga karena pertumbuhan Tiongkok menderita akibat lockdown yang ketat.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi global akan meningkat lebih lanjut ia memperkirakan US Treasuries akan diperdagangkan dalam kisaran 2,70-3,00 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan 1,50 persen untuk imbal hasil Treasury 10Y pada awal 2022. Jika inflasi mulai mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ke depan, maka imbal hasil global akan berhenti melonjak.

Terakhir, safe-haven USD diperkirakan untuk tetap diminati, dimana Euro, Yen dan Renminbi semuanya melemah tajam terhadap greenback.

"Kombinasi dari inflasi yang meningkat, perlambatan yang lebih tajam, kenaikan suku bunga yang dipercepat, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan USD yang lebih kuat mencerminkan prospek ekonomi global yang sangat menantang," pungkasnya.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id