Dolar AS Tergelincir

    Antara - 09 April 2021 09:02 WIB
    Dolar AS Tergelincir
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO



    New York: Dolar AS tergelincir ke level terendah dua minggu terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), mengikuti penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Hal itu terjadi setelah data menunjukkan kenaikan mengejutkan dalam klaim pengangguran mingguan AS.

    Sementara kenaikan klaim pengangguran kemungkinan mengesampingkan kondisi pasar tenaga kerja yang membaik dengan cepat karena lebih banyak bagian dari ekonomi AS yang dibuka kembali dan stimulus fiskal masuk. Hal itu cukup buruk untuk merobohkan greenback.






    Mengutip Antara, Jumat, 9 April 2021, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingannya, melemah 0,35 persen menjadi 92,091, terendah sejak 23 Maret.

    Data Kamis, 8 April, mengikuti rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve Maret di sesi sebelumnya, yang menunjukkan para pejabat Fed tetap berhati-hati tentang risiko pandemi -bahkan ketika pemulihan AS mengumpulkan tenaga di tengah stimulus besar-besaran- dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kebijakan moneter.

    "Dengan pasar kerja bergerak ke arah yang salah, itu menggarisbawahi risalah Fed minggu ini yang menekankan bagaimana ekonomi jauh dari apa yang dianggap Fed sehat," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, dalam sebuah catatan.

    "Data itu memperkuat sikap dovish Fed kemungkinan akan mempertahankan imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar melemah," tambahnya.

    Sedangkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan bank sentral AS tidak akan mengurangi dukungannya untuk ekonomi AS, mencatat bahwa kenaikan harga-harga yang diperkirakan tahun ini kemungkinan bersifat sementara, dan memperingatkan bahwa kenaikan dalam kasus covid-19 dapat memperlambat pemulihan.

    Imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan adalah sekitar 1,632 persen pada Kamis, 8 April, setelah turun di bawah 1,63 persen semalam. Imbal hasil mencapai 1,776 persen akhir bulan lalu, tertinggi dalam lebih dari setahun.

    Mata uang AS -yang terapresiasi tahun ini, sebagian dibantu oleh reli dalam imbal hasil obligasi Pemerintah AS- telah berada di bawah tekanan dalam sesi terakhir karena imbal hasil telah mundur kembali. Dengan imbal hasil obligasi Pemerintah AS mengurangi daya tarik relatif greenback, yen naik ke level tertinggi dua minggu terhadap mata uang AS.

    Sterling stabil terhadap dolar untuk diperdagangkan hampir datar, menahan kerugian baru-baru ini setelah serangan aksi ambil untung, dengan para pedagang optimis tentang prospek jangka pendeknya setelah awal yang kuat untuk tahun ini.

    Dengan data klaim pengangguran yang membebani greenback, dolar Kanada naik tipis, pulih dari level terendah satu minggu.

    Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1915 dari 1,1866 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris tidak berubah mendekati 1,3735 dolar AS dari 1,3735 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,7650 dolar AS dari 0,7604 dolar AS.

    Dolar AS dibeli 109,25 yen Jepang, lebih rendah dari 109,80 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9238 franc Swiss dari 0,9298 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2567 dolar Kanada dari 1,2625 dolar Kanada.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id