comscore

Antisipasi Krisis Energi Akibat Perang Ukraina, Elon Musk Dorong Penggunaan PLTN

Insi Nantika Jelita - 07 Maret 2022 19:24 WIB
Antisipasi Krisis Energi Akibat Perang Ukraina, Elon Musk Dorong Penggunaan PLTN
CEO Tesla Elon Musk. Foto: AFP/Frederic J. Brown.
Jakarta: CEO Tesla Elon Musk mendorong negara Eropa untuk segera mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengantisipasi krisis energi akibat konflik yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina.

Pasalnya, negara Eropa yang tergantung dengan pasokan gas, ketar-ketir terhadap ancaman Rusia soal penyetopan gas. Negara di benua biru itu pun harus mengantisipasi pasokan energi dengan sumber lain.
"Saat ini sangat jelas, Eropa harus mengoperasikan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir yang sudah tidak aktif dan meningkatkan output daya yang sudah ada. Ini hal kritikal untuk keamanan nasional dan internasional," cuit Elon dalam akun Twitternya, dilansir Mediaindonesia.com, Senin, 7 Maret 2022.

Dia mengatakan, ketakutan akan radiasi nuklir terlalu berlebihan. Elon sesumbar bahwa akan makan makanan yang ditanam secara lokal di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir. "Saya melakukan ini di Jepang bertahun-tahun yang lalu, tak lama setelah Fukushima. Risiko radiasi jauh, jauh lebih rendah daripada yang diyakini kebanyakan orang," klaimnya.

Menanggapi pernyataan Elon Musk, pengamat energi Bob S. Effendi mendukung hal tersebut. Dia menilai, nuklir adalah jalan menuju ketahanan energi nasional yang jelas telah terbukti dalam kasus krisis energi Eropa.

"Saya sepakat dengan pandangan Elon Musk yang saat ini sudah sangat jelas bahwa kebijakan energi Jerman yang terlalu mengandalkan energi yang sangat bergantung pada cuaca sangatlah tidak tepat," ungkapnya kepada wartawan.

Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia itu juga menjelaskan, banyaknya bauran energi terbarukan dan ditutupnya PLTN di Jerman telah menyebabkan negara itu harus bergantung pada pasokan gas Rusia untuk memberikan pasokan energi yang andal. Namun, akibat perang Rusia di Ukraina, Jerman dikatakan memiliki opsi menggantikan pasokan gas Rusia dengan impor LNG yang jauh lebih mahal atau membuka opsi nuklir yang diklaim lebih murah dalam pembiayaan listrik.

Prancis juga disebut mengandalkan lebih dari 70 persen energi nuklir dan sekitar tujuh persen gas dalam bauran energi di negaranya. Bob mengatakan, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengumumkan akan membangun 14 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir baru sebagai respons dari krisis energi di Eropa. Hal ini untuk dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca serta sebagai langkah untuk mengantisipasi harga energi yang terus naik.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id