Wall Street 'Berlabuh' di Zona Hijau

    Angga Bratadharma - 16 September 2020 07:45 WIB
    Wall Street 'Berlabuh' di Zona Hijau
    Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Penguatan terjadi karena bursa saham Wall Street mencermati pertemuan penting oleh Federal Reserve terkait langkah kebijakan moneternya.

    Mengutip Xinhua, Rabu, 16 September 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,27 poin atppau 0,01 persen menjadi 27.995,60. Sedangkan S&P 500 naik 17,66 poin atau 0,52 persen menjadi 3.401,20. Indeks Komposit Nasdaq melonjak 133,67 poin atau 1,21 persen menjadi 11.190,32.

    Saham perusahaan teknologi besar AS seperti Amazon, Facebook, Netflix, dan Google-parent Alphabet semuanya ditutup lebih tinggi. Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 bergerak lebih tinggi, dengan layanan komunikasi dan real estat masing-masing naik 1,72 persen dan 1,39 persen, melampaui sisanya. Sektor teknologi naik satu  persen.

    Sedangkan sektor keuangan tergelincir 1,36 persen, menjadi kelompok berkinerja terburuk. Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi, dengan enam dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan optimistis.

    Bank sentral AS memulai pertemuan kebijakan dua hari pada Selasa waktu setempat. Investor menunggu kepastian dari Federal Reserve bahwa kebijakan moneter akan tetap akomodatif di masa mendatang.

    "Salah satu hal penting dari pertemuan kebijakan Fed minggu ini kemungkinan adalah kejelasan yang lebih besar tentang implementasi pergeseran menuju target rata-rata inflasi rata-rata. Langkah ini akan memudahkan Fed untuk memberikan toleransi tingkat inflasi yang lebih tinggi sebelum pengetatan kebijakan," kata Analis UBS.

    Sentimen pasar juga mendapat dorongan setelah data menunjukkan pemulihan ekonomi Tiongkok terus meningkat bulan lalu, dengan indikator ekonomi utama semakin membaik karena upaya negara itu untuk meningkatkan pertumbuhan di tengah perlambatan covid-19 secara bertahap terbayar.

    Sementara itu, ekonomi di seluruh negara berkembang Asia akan berkontraksi tahun ini untuk pertama kalinya dalam hampir enam dekade tetapi pemulihan akan berlanjut tahun depan. Hal ini karena kawasan itu mulai bangkit dari kehancuran ekonomi yang disebabkan oleh covid-19, menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).
     
    Pembaruan 2020 Asian Development Outlook (ADO) memperkirakan kontraksi 0,7 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) untuk negara berkembang Asia tahun ini. Hal ini menandai pertumbuhan ekonomi negatif pertama sejak awal 1960-an. Laporan itu mengatakan pertumbuhan akan naik menjadi 6,8 persen pada 2021.
     

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id