Fed Luncurkan Stimulus USD2,3 Triliun, Bursa Saham AS Menguat

    Angga Bratadharma - 10 April 2020 07:47 WIB
    Fed Luncurkan Stimulus USD2,3 Triliun, Bursa Saham AS Menguat
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada Kamis waktu setempat  (Jumat WIB). Penguatan terjadi setelah adanya lonjakan besar-besaran pada klaim pengangguran awal di AS dan langkah terbaru Federal Reserve untuk mendukung perekonomian di tengah pandemi covid-19.

    Mengutip Xinhua, Jumat, 10 April 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik 285,8 poin atau 1,22 persen menjadi 23.719,37. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 39,84 poin atau 1,45 persen menjadi 2.789,82. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 62,67 poin atau 0,77 persen menjadi 8.153,58.

    Jumlah klaim pengangguran awal di Amerika Serikat mencapai 6,6 juta pada minggu lalu di tengah meningkatnya kejatuhan ekonomi akibat covid-19, menyusul angka yang sama mengejutkannya pada minggu sebelumnya, lapor Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

    Covid-19 terus memengaruhi jumlah klaim pengangguran. Dampaknya juga tercermin dari meningkatnya tingkat pengangguran yang diasuransikan, catat biro itu. Sedangkan Federal Reserve mengumumkan tindakan tambahan untuk menyediakan hingga USD2,3 triliun dalam bentuk pinjaman untuk mendukung perekonomian.

    "Pendanaan ini akan membantu rumah tangga dan pengusaha dari semua ukuran dan meningkatkan kemampuan pemerintah negara bagian dan lokal untuk memberikan layanan penting selama pandemi virus korona," kata bank sentral AS dalam sebuah pernyataan.

    "Jumlah penuntut baru sejak virus korona mencapai angka 17 juta. Ingatlah, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan belum mengajukan. Banyak lagi yang tidak memenuhi syarat," kata Kepala Ekonom FHN Financial Chris Low, dalam sebuah pernyataan.

    "Dampak ekonomi dari pandemi ini kemungkinan besar akan menyita pasar dalam waktu yang sangat lama, bahkan ketika pandemi telah mereda. Emas kemungkinan mendapat untung dari melimpahnya uang bank-bank sentral dan utang baru," kata Analis Commerzbank dalam sebuah catatan.

    Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah mempertimbangkan pembatasan sebesar 15 juta hingga 20 juta barel per hari (bph), atau 15 persen hingga 20 persen dari pasokan global.

    Namun menteri perminyakan Iran mengatakan pengurangan produksi 10 juta barel per hari hanya untuk Mei dan Juni 2020. Dari Juli hingga akhir 2020 pemotongan itu akan turun menjadi delapan juta barel per hari, dan kemudian tahun depan menjadi enam juta barel per hari.

    "Banyak harapan telah dihargakan ke dalam pasar selama beberapa hari terakhir," kata John Kilduff, mitra di hedge fund Again Capital LLC.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id