Kasus Covid-19 Melonjak di Tiongkok, Harga Minyak Dunia Tumbang

    Antara - 23 Januari 2021 08:13 WIB
    Kasus Covid-19 Melonjak di Tiongkok, Harga Minyak Dunia Tumbang
    Ilustrasi. AFP PHOTO/JEAN-SEBASTIEN EVRARD


    New York: Harga minyak dunia lebih rendah pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Harga minyak terseret peningkatan persediaan minyak mentah AS dan kekhawatiran bahwa pembatasan pandemi baru di Tiongkok akan mengekang permintaan bahan bakar di importir minyak terbesar dunia itu.

    Mengutip Antara, Sabtu, 23 Januari 2021, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret merosot 69 sen atau 1,23 persen menjadi USD55,41 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret turun 86 sen atau 1,62 persen menjadi USD52,27 per barel.




    Untuk minggu ini, patokan minyak mentah AS turun 0,3 persen sementara Brent naik 0,6 persen, berdasarkan kontrak bulan depan. Secara mengejutkan, persediaan minyak mentah AS naik 4,4 juta barel dalam seminggu terakhir, dibandingkan ekspektasi penurunan 1,2 juta barel.

    "Perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini menambahkan rig minyak dan gas alam selama sembilan minggu berturut-turut di tengah harga lebih tinggi selama beberapa bulan terakhir. Tetapi jumlah keseluruhan masih 52 persen di bawah periode sama tahun lalu," ungkap perusahaan jasa energi Baker Hughes.

    Pemulihan permintaan bahan bakar di Tiongkok mendukung kenaikan pasar akhir tahun lalu, sementara Amerika Serikat dan Eropa tertinggal. Tetapi sumber dukungan itu memudar karena gelombang baru kasus covid-19 telah memicu pembatasan baru.

    Departemen Transportasi AS mengatakan pada Jumat waktu setempat bahwa perjalanan di jalan-jalan AS jatuh 11 persen pada November, penurunan yang lebih tajam dari penggunaan jalan-jalan selama Oktober ketika kasus virus korona meningkat,

    "Pandemi tampaknya terus meluas ke gelombang kedua di Tiongkok, dengan infeksi meningkat dari hari ke hari dan mencapai lagi daerah-daerah yang berbeda seperti Shanghai," kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson.

    "Kekhawatiran tentang permintaan telah kembali menjadi fokus di pasar minyak. Tingginya angka kasus baru korona, lambatnya kemajuan vaksinasi dalam beberapa kasus dan pembatasan mobilitas yang lebih ketat dan lebih lama di Eropa membebani sentimen investor," kata Analis Energi Commerzbank Research Eugen Weinberg, dalam sebuah catatan.

    Data persediaan minyak mentah AS menunjukkan tanda-tanda kekuatan dalam permintaan produk domestik. Sementara stok minyak mentah AS naik secara tak terduga pekan lalu, kilang menaikkan produksi ke penggunaan kapasitas tertinggi sejak Maret dan permintaan bensin dan solar meningkat dari minggu ke minggu.

    "Ekspor minyak mentah memang turun cukup dramatis, yang merupakan alasan utama untuk penambahan keseluruhan stok minyak mentah yang lumayan," kata Analis Pasar Energi CHS Hedging Tony Headrick.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id