comscore

Rencana Darurat Biden untuk Alihkan Pasokan Gas ke Eropa Dikritik Tajam

Angga Bratadharma - 28 Januari 2022 11:05 WIB
Rencana Darurat Biden untuk Alihkan Pasokan Gas ke Eropa Dikritik Tajam
Presiden Amerika Serikat Joe Biden. FOTO: AFP
Washington: Mantan Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Rick Perry memberikan kritikan tajam terkait rencana darurat Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengenai pengalihan ketersediaan gas jika Rusia memotong pasokannya ke Eropa. Komentarnya muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran adanya potensi serangan Rusia ke Ukraina.

Pemerintahan Presiden Joe Biden telah mencari cara untuk mengamankan pasokan energi untuk sekutu mereka, Eropa, jika Kremlin tiba-tiba memotong aliran ekspor minyak dan gas sebagai pembalasan atas sanksi.

 



"Pemerintah mengalami kesulitan memanipulasi pasar, dan saya pikir itu lah yang Anda lihat di sini. Keputusan Biden untuk menelepon dan berkata 'Hei, maukah kalian meningkatkan ekspor LNG Anda?' Itu tidak bekerja seperti itu," kata Perry, dilansir dari CNBC International, Jumat, 28 Januari 2022.

Pernyataan Perry mengacu pada gas alam cair. "Saya pikir itu lah kesedihan pemerintahan ini. Entah kurangnya pemahaman mereka tentang ekonomi murni atau kenaifan mereka ketika sampai pada keputusan yang mereka buat tentang sektor energi dan tentang perubahan iklim," tambahnya.

Seorang juru bicara Gedung Putih tidak segera memberikan komentar mengenai hal tersebut.

Seorang pejabat senior administrasi, yang menolak disebutkan namanya untuk berbagi rincian rencana yang sedang berlangsung, mengatakan dalam panggilan telepon dengan wartawan bahwa AS telah dalam pembicaraan dengan produsen gas alam utama untuk lebih memahami apakah mereka akan siap untuk mengalokasikan sementara pasokan gas alam ke pembeli Eropa.

Sedangkan seorang pejabat senior administrasi kedua memperingatkan prospek persenjataan Rusia atas ekspor gas alam atau minyak mentah tidak akan tanpa konsekuensi bagi ekonomi Rusia. Adapun para pemimpin Barat telah berulang kali memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Kremlin akan menghadapi harga yang mahal jika ada invasi.

Sementara itu, Biden akan mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi pribadi kepada Putin jika terjadi perang, dengan mengatakan efek dari kemungkinan invasi akan mengubah dunia. Rusia telah mengumpulkan sekitar 100 ribu tentara di dekat perbatasan Ukraina tetapi membantah berencana memasuki bekas republik Soviet itu.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id