Ancaman Sanksi AS Berpeluang Dorong Myanmar Dicengkeram Ekonomi Tiongkok

    Angga Bratadharma - 04 Februari 2021 08:46 WIB
    Ancaman Sanksi AS Berpeluang Dorong Myanmar Dicengkeram Ekonomi Tiongkok
    Presiden AS Joe Biden. FOTO: AFP/MANDEL NGAN



    Singapura: Rencana pengenaan sanksi yang diberikan kepada Myanmar oleh Amerika Serikat (AS) setelah kudeta militer pada minggu ini dapat membuka pintu bagi Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di negara Asia Tenggara tersebut.

    Presiden AS Joe Biden sebelumnya mengancam memberikan sanksi dan mengutuk pengambilalihan Pemerintahan Myanmar oleh militer. Dengan dalih pemilu yang penuh penipuan, militer Myanmar menahan beberapa pejabat terpilih termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan menyatakan keadaan darurat selama satu tahun.

     



    "Meskipun AS tidak memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Myanmar, namun mitra Asia-nya seperti Jepang, Korea Selatan, dan India telah memperluas kehadiran bisnis dan militer di sana," kata Wakil Presiden Senior Analisis Strategis Stratfor Rodger Baker, dilansir dari CNBC International, Kamis, 4 Februari 2021.

    Baker mengatakan kehadiran negara-negara Asia tersebut di Myanmar telah membantu melawan cengkeraman ekonomi Tiongkok di negara Asia Tenggara tersebut. "Jika AS menjatuhkan sanksi (kepada Myanmar), ini berpotensi berdampak pada struktur kemitraan AS dalam melawan perilaku Tiongkok di kawasan itu," katanya.

    Komentar Baker muncul setelah Jepang mengeluarkan peringatan serupa. Menteri Pertahanan Jepang Yasuhide Nakayama memperingatkan bahwa negara-negara demokratis -termasuk AS, Inggris, dan Jepang- berisiko mendorong Myanmar lebih dekat ke Tiongkok jika respons terhadap kudeta menutup saluran komunikasi dengan militer negara tersebut.

    Ada seruan yang meningkat di Washington agar Pemerintahan Biden mengambil tindakan tegas terhadap militer. Pemimpin Senat Republik Mitch McConnell mengatakan AS harus memberikan sanksi sekuat mungkin, termasuk bertindak melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melihat apakah Rusia dan Tiongkok benar-benar akan memveto.

    Tiongkok, yang berbatasan dengan Myanmar, adalah investor utama dan mitra dagang dari tetangga selatannya. Tanggapan Beijing terhadap kudeta telah dibungkam. Mengulangi pernyataannya dari hari lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin mengatakan pihaknya telah mencatat apa yang terjadi di Myanmar.

    Dia menambahkan tindakan apapun yang diambil oleh komunitas internasional akan berkontribusi pada stabilitas politik dan sosial Myanmar. "Mempromosikan perdamaian dan rekonsiliasi, dan menghindari eskalasi konflik dan memperumit situasi," pungkasnya.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id