Fed Tingatkan Likuiditas Hadapi Korona, Wall Street Menghijau

    Antara - 18 Maret 2020 07:32 WIB
    Fed Tingatkan Likuiditas Hadapi Korona, Wall Street Menghijau
    Ilustrasi. FOTO: Pando
    New York: Wall Street rebound atau kembali menghijau pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Kondisi itu terjadi setelah aksi jual bersejarah sehari sebelumnya ketika langkah-langkah stimulus baru dari Federal Reserve gagal menenangkan pasar di tengah meningkatnya kekhawatiran akan virus corona.

    Mengutip Antara, Rabu, 18 Maret 2020, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.048,86 poin atau 5,2 persen menjadi ditutup di 21.237,38 poin. Indeks S&P 500 bertambah 143,06 poin atau 6,00 persen menjadi berakhir di 2.529,19 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 430,19 poin atau 6,23 persen menjadi 7.334,78 poin.

    S&P 500 melonjak enam persen, mengembalikan setengah dari aksi jual sesi sebelumnya, karena Federal Reserve dan Gedung Putih mengambil langkah lebih lanjut untuk meningkatkan likuiditas dan membendung kerusakan akibat wabah virus korona yang telah mencengkeram ekonomi global.

    Bank sentral AS meluncurkan kembali pembelian utang jangka pendek era krisis keuangan untuk membantu perusahaan-perusahaan dapat terus membayar pekerja dan membeli pasokan di tengah pandemi.

    Langkah untuk membeli kembali surat berharga komersial pada Selasa waktu setempat tersebut, menyusul beberapa langkah darurat yang diambil oleh the Fed pada Minggu, 15 Maret termasuk memangkas suku bunga mendekati nol.

    Juga pada hari yang sama, pemerintahan Trump mengejar paket stimulus $ 850 miliar untuk menopang perekonomian dan mempertimbangkan mengirim cek $ 1.000 kepada warga Amerika dalam waktu dua minggu.

    "Ini masalah tentang likuiditas ini telah menjadi perhatian, dan itu lah yang mereka coba atasi. Itu mengatakan, faktor sebesar apa adalah bahwa ini adalah perlambatan yang didorong oleh konsumen, Anda harus memiliki stimulus fiskal," kata Kepala Ekuitas Franklin Templeton Stephen Dover.

    "Dan kami melihat di seluruh dunia stimulus fiskal yang sangat besar, sehingga banyak dari apa yang ada mempengaruhi pasar sekarang," tambahnya.

    Pandemi ini menyebabkan gangguan bisnis dan perjalanan yang parah di seluruh dunia karena orang-orang tinggal di rumah dan menghindari kegiatan mereka yang biasa. Banyak perusahaan telah memperingatkan pendapatan yang lebih rendah, dan sebagian besar pengamat pasar bersiap untuk resesi AS.

    Dengan rebound hari ini, pasar telah mengembalikan hanya sebagian dari kerugian baru-baru ini. S&P 500, yang pada Senin 16 Maret anjlok 12 persen dalam kerugian satu hari terbesar sejak kejatuhan "Black Monday" 1987, masih terpuruk 25,3 persen dari rekor penutupan tertinggi 19 Februari, dan banyak pengamat pasar melihat lebih banyak volatilitas ke depan.

    "Kami masih dalam kesulitan. Kami belum mengalami hari positif berturut-turut selama dua minggu," kata Direktur Pelaksana Perdagangan Ekuitas Wedbush Securities Michael James.

    Sejauh ini, banyak langkah yang diumumkan oleh pembuat kebijakan dan pemerintah belum dapat membendung aksi jual di saham. Kejatuhan pada Senin 16 Maret adalah penurunan persentase harian terbesar ketiga S&P, hanya dikalahkan oleh kejatuhan 1987 dan kehancuran Depresi Besar pada 1929.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id