Saudi Janji Pangkas Produksi, Minyak Dunia Capai Level Tertinggi

    Angga Bratadharma - 08 Januari 2021 08:05 WIB
    Saudi Janji Pangkas Produksi, Minyak Dunia Capai Level Tertinggi
    Ilustrasi. AFP PHOTO/AMER HILABI
    New York: Harga minyak dunia menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), mencapai level tertinggi 11 bulan. Pelaku pasar tetap fokus pada janji tak terduga Arab Saudi untuk memperdalam pemotongan produksi dan penguatan ekuitas, mengabaikan gejolak politik di Amerika Serikat.

    Mengutip Antara, Jumat, 8 Januari 2021, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik delapan sen menjadi menetap di USD54,38 per barel setelah menyentuh USD54,90, posisi tertinggi yang tidak terlihat sejak sebelum penguncian covid-19 pertama di Barat.

    Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 20 sen menjadi USD50,83 per barel, setelah mencapai sesi tertinggi di USD51,28.

    Pada Rabu, 6 Januari, harga minyak mentah berjangka sempat turun ketika pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Capitol AS, setelah Trump mendesak mereka untuk memprotes pengesahan Kongres atas kekalahannya dalam pemilihan.

    Harga minyak minggu ini telah didukung oleh janji Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, untuk memangkas produksi dengan tambahan satu juta barel per hari (bph) pada Februari dan Maret.

    "Pada bulan depan, pasar bullish ini dapat kembali ke level yang lebih tinggi terutama dengan diuntungkan dari pengurangan produksi sukarela sebesar satu juta barel per hari di Arab Saudi,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

    Sebanyak tujuh kargo minyak mentah Brent dibeli dan dijual di jendela perdagangan yang dioperasikan oleh Platts, jumlah rekor yang menurut sumber perdagangan mungkin mencerminkan pasokan yang lebih ketat setelah pemotongan yang mengejutkan.

    “Arab Saudi sangat mengetahui hubungan antara harga minyak dan tingkat persediaan global. Persediaan yang lebih rendah sama dengan harga yang lebih tinggi," kata Kepala Analis Komoditas SEB Bjarne Schieldrop.

    Ekuitas global lebih tinggi karena investor percaya Presiden terpilih dari Partai Demokrat AS Joe Biden akan memperdayakan belanja lebih bebas menyusul kemenangan dua Demokrat dalam pemilihan Senat di Georgia yang memberi partai kendali atas kedua kamar di Kongres AS.

    "Langkah-langkah stimulus yang diharapkan di bawah Pemerintahan Biden yang kemungkinan akan mencakup investasi infrastruktur yang signifikan merupakan pertimbangan pendukung yang mampu meningkatkan permintaan bensin dan solar," pungkas Ritterbusch.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id