comscore

Tak Terpengaruh Inflasi Global, Bos BoJ: Kebijakan Moneter Ultra Longgar Perlu Dipertahankan

Angga Bratadharma - 29 Juni 2022 10:02 WIB
Tak Terpengaruh Inflasi Global, Bos BoJ: Kebijakan Moneter Ultra Longgar Perlu Dipertahankan
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. FOTO: AFP
Tokyo: Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda mengatakan Bank of Japan (BoJ) akan mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgarnya karena ekonomi tidak terlalu terpengaruh oleh tren inflasi global. Ia menekankan pengalaman 15 tahun negara itu dengan deflasi membuat pertumbuhan upah tetap terkendali.

Kuroda menjelaskan inflasi konsumen inti Jepang mencapai 2,1 persen selama dua bulan berturut-turut pada Mei, tetapi kenaikan itu hampir seluruhnya disebabkan oleh melonjaknya harga energi.
Sementara inflasi konsumen inti mungkin tetap sekitar 2,0 persen selama sekitar satu tahun, kemungkinan akan melambat menjadi sekitar 1,0 persen pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai pada April 2023, katanya.

"Tidak seperti ekonomi lainnya, ekonomi Jepang belum banyak terpengaruh oleh tren inflasi global, sehingga kebijakan moneter akan terus akomodatif,” katanya, menurut rekaman yang dirilis oleh Bank for International Settlements (BIS), dikutip dari Antara, Rabu, 29 Juni 2022.
Baca: BoJ Yakin Mampu Keluar dari Kebijakan Ultra Longgar

Kuroda menambahkan setelah 15 tahun deflasi Jepang yang berlangsung hingga 2013, perusahaan-perusahaan di negara itu menjadi sangat berhati-hati dalam menaikkan harga dan upah. "Ekonomi pulih dan perusahaan-perusahaan mencatat keuntungan tinggi. Pasar tenaga kerja menjadi cukup ketat. Tapi upah tidak banyak naik dan harga tidak naik banyak," katanya.

Melonjaknya harga-harga komoditas global dan melemahnya yen, yang meningkatkan biaya impor bahan mentah, telah mendorong inflasi konsumen inti Jepang di atas target BoJ 2,0 persen.

Tetapi Kuroda telah berulang kali menekankan perlunya mempertahankan suku bunga yang sangat rendah sampai inflasi lebih didorong oleh permintaan yang kuat, membuat BoJ menjadi outlier di antara gelombang global bank sentral yang menaikkan suku bunga untuk memerangi lonjakan inflasi.

Kuroda mengatakan sangat sulit untuk menilai dampak berbagai perubahan struktural, seperti risiko geopolitik dan digitalisasi, terhadap ekonomi global.

"Bagaimanapun, mandat bank sentral akan tetap sama. Yaitu menstabilkan harga untuk pembangunan ekonomi dengan kebijakan moneter kami, meskipun jalur transmisi kebijakan dapat berubah di dunia yang berubah cepat dengan ketidakpastian," pungkasnya.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id