Harga Minyak Naik Moderat, Investor Khawatir Permintaan Global

    Antara - 22 September 2021 07:00 WIB
    Harga Minyak Naik Moderat, Investor Khawatir Permintaan Global
    Ilustrasi. Foto: AFP



    New York: Harga minyak naik moderat dalam sesi yang fluktuatif pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Kenaikan ini terjadi di saat kekhawatiran tentang prospek konsumsi global mengimbangi perjuangan produsen-produsen besar OPEC untuk memompa pasokan yang cukup, guna memenuhi meningkatnya permintaan.

    Melansir Antara, Rabu, 22 September 2021, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November hanya naik 44 sen menjadi USD74,36 per barel, setelah turun hampir dua persen pada hari sebelumnya.

     



    Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober yang berakhir pada Selasa, 21 September 2021 naik 27 sen menjadi USD70,56 per barel setelah anjlok 2,3 persen di sesi sebelumnya. Sementara kontrak November yang lebih aktif naik 35 sen menjadi USD70,49 per barel.

    "Tampaknya menjadi perdagangan yang sangat gelisah hari ini," kata analis senior di grup Price Futures di Chicago, Phil Flynn.

    "Ini menjadi sedikit kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang dampak potensial dari permintaan ke depan," imbuhnya.

    Kantor berita TASS mengatakan, Rusia percaya permintaan minyak global mungkin tidak pulih seperti pada 2019 sebelum pandemi, karena keseimbangan energi bergeser.

    Sementara itu, investor di seluruh aset keuangan diguncang oleh dampak dari krisis Evergrande yang telah merusak nilai aset di pasar berisiko seperti ekuitas.

    "Pedagang khawatir hal itu dapat memicu efek domino di perusahaan-perusahaan besar yang didorong oleh utang Tiongkok, dan efek bearish bergulir untuk harga-harga saham dan komoditas," kata analis pasar minyak di Rystad Energy, Nishant Bhushan.

    "Namun, mengingat bahwa semua bank besar Tiongkok dan lembaga pemberi pinjaman dikendalikan oleh pemerintah, ada secercah harapan di pasar bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan mampu mengatasi gelombang kejut dari Evergrande," imbuhnya.

    Selain itu, Federal Reserve AS diperkirakan akan mulai memperketat kebijakan moneter, yang dapat mengurangi toleransi investor terhadap aset-aset berisiko seperti minyak.

    Produksi minyak AS masih belum pulih dari badai yang melanda kawasan Pantai Teluk. Royal Dutch Shell, produsen minyak terbesar Teluk Meksiko AS, mengatakan kerusakan fasilitas transfer lepas pantai dari Badai Ida akan memangkas produksi hingga awal tahun depan.

    Sekitar 18 persen dari minyak Teluk AS dan 27 persen dari produksi gas alamnya masih offline sejak Senin pekan ini.

    Persediaan minyak mentah, bensin, dan sulingan AS turun pekan lalu. Hal ini karena banyak kilang dan fasilitas pengeboran lepas pantai tetap tutup setelah Badai Ida.

    Stok minyak mentah turun 6,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 17 September. Persediaan bensin turun 432 ribu barel dan stok sulingan turun 2,7 juta barel, data menunjukkan, menurut sumber anonim.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id