IMF: Harga Energi Bakal Turun di Awal 2022

    Angga Bratadharma - 14 Oktober 2021 09:49 WIB
    IMF: Harga Energi Bakal Turun di Awal 2022
    Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. FOTO: Xinhua/Liu Jie



    Washington: Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath mengatakan kenaikan harga energi telah membebani rumah tangga. Akan tetapi lonjakan baru-baru ini tidak mungkin memicu krisis minyak seperti yang pernah terjadi di 1970-an dan akan mereda di awal tahun depan.

    "Harga energi jatuh tahun lalu di tengah penutupan yang diberlakukan untuk menahan pandemi covid-19, tetapi 2021 telah membawa lonjakan permintaan yang tajam ketika ekonomi global pulih," kata Gopinath, dilansir dari The Business Times, Kamis, 14 Oktober 2021.

     



    Di pasar energi, musim dingin yang panjang diikuti oleh musim panas yang sangat panas menyebabkan permintaan yang lebih besar dan menipisnya stok, terutama cadangan gas di Eropa. "Pemulihan ini benar-benar sangat unik," tuturnya, di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

    Pasokan banyak barang lain belum mampu pulih secepat permintaan, sebagian terhambat oleh penyebaran covid-19 varian delta, yang membuat para pekerja enggan untuk kembali bekerja dan membuat rantai pasok menjadi kacau. Kekurangan tenaga kerja itu mendorong tekanan harga di negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Jepang.

    "Kami berada dalam situasi sulit di mana kami telah melihat harga naik sangat tajam, dan pertanyaan kuncinya adalah apakah itu akan bertahan," ucapnya.

    Dirinya berharap harga energi yang diperkirakan terus meningkat untuk beberapa bulan ke depan bisa segera turun. "Kami berharap itu akan kembali turun pada akhir kuartal pertama tahun depan dan memasuki kuartal kedua (2022) Begitu kita melewati bulan-bulan musim dingin, kita akan berada di tempat yang lebih baik," tukasnya.

    Harga minyak telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir dan melompat ke tertinggi multi-tahun pada Senin waktu setempat. Patokan minyak mentah WTI melonjak di atas USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak Oktober 2014 dan naik 30 persen sejak Agustus, yang membuat pasar saham utama jatuh.

    Kenaikan harga energi telah meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi secara keseluruhan dapat meningkat lebih tinggi dan menghambat pemulihan ekonomi global. Gopinath memperingatkan cuaca akan berperan, karena musim dingin yang sangat parah dapat menyebabkan pemadaman listrik yang lebih luas.

    "Yang akan memiliki efek jauh lebih besar pada dunia," pungkasnya.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id