Minyak Dunia Jatuh Usai Stok AS Melesat

    Antara - 02 April 2020 08:01 WIB
    Minyak Dunia Jatuh Usai Stok AS Melesat
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Harga minyak dunia jatuh pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Pelemahan terjadi setelah persediaan minyak Amerika Serikat (AS) naik tertinggi pada pekan lalu, sementara permintaan bensin atau bahan bakar minyak mengalami penurunan mingguan terbesar akibat pandemi virus korona.

    Mengutip Antara, Kamis, 2 April 2020, badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah naik 13,8 juta barel minggu lalu. Itu adalah kenaikan satu minggu terbesar sejak 2016, dan analis memperkirakan data serupa dalam beberapa minggu mendatang, karena kilang-kilang menahan produksi lebih lanjut dan permintaan bensin terus menurun.

    Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 17 sen menjadi USD20,31 per barel, setelah mencapai titik terendah di USD19,90. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni jatuh USD1,61 atau 6,1 persen menjadi USD24,74 per barel.

    Acuan global turun menjadi USD21,65 pada Senin, 30 Maret, terendah sejak 2002, ketika kontrak Mei berakhir. Adapun pasar telah merosot akibat penurunan tajam dalam permintaan karena pandemi virus korona dan peningkatan produksi Arab Saudi dan Rusia setelah pakta pasokan gagal bulan lalu.

    Minyak mentah Brent anjlok 66 persen dalam tiga bulan pertama 2020, kerugian kuartalan terbesar yang pernah ada. Produksi Arab Saudi naik menjadi lebih dari 12 juta barel per hari dalam beberapa bulan terakhir, menurut sumber.

    "Kemungkinan kargo tertekan, kenaikan tarif pengiriman, force majeures, tekanan pada kapasitas penyimpanan, ketersediaan VLCC akan bergabung dalam menempatkan tekanan turun tambahan pada harga minyak," kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, dalam sebuah laporan.

    Presiden Rusia Vladimir Putin meminta produsen dan konsumen minyak global untuk mengatasi pasar minyak yang menantang sementara Presiden AS Donald Trump mengeluh bahwa minyak yang lebih murah daripada air telah merugikan industri.

    Trump mengundang beberapa eksekutif industri energi, termasuk kepala eksekutif Exxon Mobil dan Chevron Corp, ke pertemuan untuk membahas bantuan untuk industri, termasuk kemungkinan tarif impor minyak dari Arab Saudi, sumber pemerintah mengonfirmasi.

    "Permintaan adalah bencana. Itu lah keseluruhan masalahnya di sini. Ini mengerikan," kata Direktur Berjangka Energi Mizuho Bob Yawger di New York.

    Suasana bearish telah dipicu oleh keretakan dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya tidak dapat menyetujui pertemuan teknis pada April untuk membahas penurunan harga.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id