Tiongkok Serukan Keinginan Kembali 'Mesra' dengan AS

    Angga Bratadharma - 23 Januari 2021 11:01 WIB
    Tiongkok Serukan Keinginan Kembali 'Mesra' dengan AS
    Ilustrasi. FOTO: Johannes Eisele/AFP


    Beijing: Setelah Joe Biden resmi dilantik sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS), Tiongkok mengungkapkan harapannya untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan Washington. Tetapi, Beijing juga memperingatkan akan ada konsekuensi jika menantang kedaulatan Pemerintah Tiongkok.

    "Hari baru untuk #US", seperti yang dikatakan oleh media Amerika. Kami mengharapkan hal yang sama untuk hubungan #China_US," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying dalam sebuah cuitan di Twitter, dilansir dari CNBC International, Sabtu, 23 Januari 2021.




    "Kedua orang (AS dan Tiongkok) telah menderita dan berharap untuk melihat hubungan kembali ke jalur yang benar secepatnya," tambahnya.

    Dalam 36 jam setelah pelantikan, Kementerian Luar Negeri Tiongkok dan media pemerintah sebagian besar berfokus pada sanksi baru yang melarang 28 orang termasuk mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan mantan Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro untuk berbisnis dengan Tiongkok.

    Sebagian besar berasal dari Pemerintahan Donald Trump, tetapi Trump tidak terdaftar di antara 10 orang yang disebutkan. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menolak untuk membagikan siapa saja 18 orang lainnya. Kementerian Luar Negeri mengumumkan perintah tersebut sekitar pukul 1 pagi waktu Beijing Kamis, tepat ketika pemerintahan baru memasuki Gedung Putih.

    "Pejabat dan politisi AS tidak dapat diizinkan untuk mengambil keuntungan dari Tiongkok saat menyerang Tiongkok," kata salah satu opini berbahasa Inggris di Global Times.

    Perusahaan dan institusi yang terkait dengan 28 orang tidak akan diizinkan untuk berbisnis dengan Tiongkok, menurut pengumuman resmi, yang berarti mereka yang terkena sanksi mungkin akan kesulitan untuk mengejar karir atau menjalankan bisnisnya.

    Pada konferensi pers reguler, Hua berbicara tentang potensi tak terbatas dalam hubungan masa depan antara kedua negara yakni Tiongkok dan AS jika kedua belah pihak mengelola perbedaan dengan benar. Namun, ia menambahkan, Tiongkok siap bertindak tegas jika ada hal-hal yang merusak kedaulatan.

    "Bisa dikatakan, itu juga merupakan posisi jelas kami bahwa Tiongkok akan mengambil reaksi tegas terhadap semua langkah yang merusak kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan kami," tegas Hua.

    Dia mengatakan Pemerintahan Trump, yang diwakili oleh Pompeo, menyebabkan adanya kesulitan parah terkait hubungan Tiongkok-AS dengan mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok dan merusak kedaulatan, keamanan, serta kepentingan pembangunan Tiongkok.

    Hanya satu hari sebelum meninggalkan kantor, Pompeo menyatakan bahwa Tiongkok melakukan genosida terhadap minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. Mantan menteri luar negeri tersebut telah sering menerbitkan pernyataan keras yang mengkritik Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok tentang masalah kontroversial seperti Hong Kong, Taiwan, dan Xinjiang.

    Beijing menganggap topik itu sebagai bagian dari urusan dalam negerinya dan Pemerintah Xinjiang mengeluarkan pernyataan tegas terhadap deklarasi Pompeo. Adapun ketegangan antara AS dan Tiongkok meningkat di bawah Trump, dimulai dengan perang perdagangan pada 2018. Perselisihan meluas ke teknologi, keuangan, dan ketidaksepakatan tentang asal-usul covid-19.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id