Wall Street Masih Terpukul Wabah Covid-19

    Antara - 24 Maret 2020 07:05 WIB
    Wall Street Masih Terpukul Wabah Covid-19
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Saham-saham di Wall Street turun tajam pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Hal itu terjadi sekalipun Federal Reserve telah meluncurkan langkah-langkah baru yang luas dan lebih agresif untuk mendukung ekonomi yang terpukul akibat meluasnya wabah covid-19.

    Mengutip Antara, Selasa, 24 Maret 2020, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 582,05 poin atau 3,04 persen menjadi ditutup pada 18.591,93. Indeks S&P 500 jatuh 67,52 poin atau 2,93 persen menjadi berakhir di 2.237,40. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 18,84 poin atau 0,27 persen menjadi 6.860,67.

    Saham United Technologies anjlok 9,18 persen, memimpin penurunan di Dow. Indeks sempat diperdagangkan sekitar 960 poin lebih rendah pada satu titik selama sesi. Saham Boeing melonjak lebih dari 11 persen, menjadi saham dengan kinerja terbaik dalam indeks 30-saham.

    Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan sektor energi terpuruk 6,65 persen, merupakan sektor berkinerja terburuk. Consumer discretionary menguat 0,35 persen, satu-satunya yang berhasil membukukan kenaikan di antara sektor-sektor lainnya.

    Federal Reserve AS pada hari sebelumnya mengumumkan bahwa mereka akan membeli surat utang pemerintah AS dan sekuritas yang didukung hipotek tanpa batas untuk membantu pasar berfungsi lebih efisien di tengah ketidakpastian akibat virus corona.

    "Pandemi virus corona menyebabkan kesulitan besar di seluruh Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Sementara ketidakpastian besar tetap ada, menjadi jelas bahwa ekonomi kita akan menghadapi gangguan parah," kata the Fed dalam sebuah pernyataan.

    "Upaya agresif harus dilakukan lintas sektor publik dan swasta untuk membatasi kerugian pada pekerjaan dan pendapatan dan untuk mempromosikan pemulihan cepat setelah gangguan mereda," tambah bank sentral AS.

    Awal bulan ini, the Fed melakukan pemotongan suku bunga darurat kedua yang belum pernah terjadi sebelumnya hanya selama periode dua minggu, membawa suku bunga acuan mendekati nol. Wall Street menyelesaikan pekan lalu dengan kerugian besar karena investor bergulat dengan kekhawatiran atas potensi kerusakan ekonomi akibat pandemi virua corona.

    Bank sentral juga meluncurkan program pelonggaran kuantitatif besar-besaran, berjanji untuk meningkatkan kepemilikan obligasi setidaknya USD700 miliar sebagai cara untuk mempertahankan suku bunga jangka panjang lebih rendah dan menyediakan likuiditas ke pasar modal.

    Untuk pekan yang berakhir 20 Maret, indeka Dow jatuh 7,3 persen, indeks S&P 500 terpuruk 14,98 persen dan indeks Nasdaq kehilangan 12,64 persen. Indeks-indeks utama memiliki kinerja mingguan terburuk sejak krisis keuangan global pada 2008.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id