comscore

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2022 Jadi 4,4%

Antara - 26 Januari 2022 07:47 WIB
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2022 Jadi 4,4%
Ilustrasi. AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS
Washington: Dana Moneter Internasional (IMF) melalui rilis laporan World Economic Outlook yang telah diperbaharuinya memproyeksikan ekonomi global akan tumbuh 4,4 persen pada 2022. Angka itu turun 0,5 poin dibandingkan dengan perkiraan Oktober.

"Pertumbuhan akan melambat karena ekonomi bergulat dengan gangguan pasokan, inflasi yang lebih tinggi, rekor utang dan ketidakpastian yang terus-menerus," kata Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath, dilansir dari Antara, Rabu, 26 Januari 2022.
"Penyebaran varian Omicron yang cepat telah menyebabkan pembatasan mobilitas baru di banyak negara dan meningkatkan kekurangan tenaga kerja," kata Gopinath, yang sebelumnya adalah Kepala Ekonom IMF.

Dia menambahkan bahwa sementara Omicron akan membebani aktivitas pada kuartal pertama 2022, efek ini akan memudar mulai kuartal kedua. "Gangguan pasokan masih membebani aktivitas dan berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi, menambah tekanan dari permintaan yang kuat dan kenaikan harga makanan dan energi," kata Gopinath.

Ketidakseimbangan pasokan-permintaan diasumsikan menurun selama 2022 berdasarkan ekspektasi industri akan peningkatan pasokan, karena permintaan secara bertahap menyeimbangkan kembali dari barang ke jasa, dan dukungan kebijakan yang luar biasa ditarik, menurut laporan terbaru.

IMF telah merevisi perkiraan inflasi 2022 untuk pasar negara maju dan emerging market dan negara berkembang, dengan tekanan harga yang tinggi diperkirakan akan bertahan lebih lama. Dengan asumsi ekspektasi inflasi tetap terjaga, inflasi diperkirakan akan mereda pada 2023.

"Namun perkiraan tersebut tunduk pada ketidakpastian yang tinggi dan risiko secara keseluruhan mengarah ke sisi penurunan, termasuk munculnya varian yang lebih mematikan," kata Gopinath.

Dengan kenaikan suku bunga, negara-negara berpenghasilan rendah, di mana 60 persennya sudah berada dalam atau berisiko tinggi mengalami kesulitan utang, akan merasa semakin sulit untuk membayar utang mereka, dia memperingatkan, menyerukan perubahan Kerangka Umum G20 untuk memberikan restrukturisasi utang dengan lebih cepat.

Menekankan perbedaan dalam prospek

IMF telah berulang kali menekankan perbedaan dalam prospek di seluruh negara. "Sementara ekonomi maju diproyeksikan untuk kembali ke tren pra-pandemi tahun ini, beberapa negara emerging market dan negara berkembang diproyeksikan memiliki kerugian output yang cukup besar dalam jangka menengah," kata Gopinath.

Sampai sekarang hanya empat persen dari populasi negara-negara berpenghasilan rendah yang divaksinasi penuh dibandingkan dengan 70 persen di negara-negara berpenghasilan tinggi, menurut pemberi pinjaman multilateral itu.

"Ada kebutuhan mendesak untuk menutup kesenjangan pembiayaan USD23,4 miliar untuk Access to Covid-19 Tools Accelerator, sebuah platform global yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia, dan untuk mendorong transfer teknologi guna membantu mempercepat diversifikasi produksi global alat-alat medis penting, terutama di Afrika," kata Gopinath.

Lebih lanjut, IMF memperkirakan pertumbuhan global akan melambat menjadi 3,8 persen pada 2023. Ini 0,2 poin lebih tinggi dari World Economic Outlook Oktober lalu dan sebagian besar mencerminkan kenaikan setelah hambatan saat ini pada pertumbuhan menghilang, menurut laporan terbaru.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id