comscore

Ekonomi AS Makin Anjlok karena Ketakutan Resesi

Medcom - 30 Juni 2022 17:48 WIB
Ekonomi AS Makin Anjlok karena Ketakutan Resesi
Ilustrasi. Foto: AFP/Mario Tama.
Washington: Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mengalami penurunan dengan persentase tahunan sebesar 1,6 persen pada kuartal pertama 2022. Penurunan tersebut merupakan yang pertama kali sejak kuartal kedua 2020.

Melansir Forbes, Kamis, 30 Juni 2022, Biro Analisis Ekonomi melaporkan penurunan yang terjadi ternyata lebih rendah dari perkiraan bulan lalu sebesar 1,5 persen.
Pengeluaran yang rendah untuk inventaris bisnis dan investasi residensial menjadi salah satu faktor penurunan pertumbuhan ekonomi. Ditambah lagi hanya sebagian saja yang diimbangi dengan kenaikan belanja konsumen.

Selain itu, merebaknya varian Omicron saat pandemi covid-19 di awal 2022 mengakibatkan pembatasan berkelanjutan yang berimbas pada gangguan bisnis. Program-program bantuan pemerintah seperti forgivable loan untuk bisnis dan tunjangan sosial untuk rumah tangga juga harus dikurangi atau bahkan dihentikan.

Menurut pemerintah, faktor lain yang turut mendorong turunnya pertumbuhan ekonomi adalah penurunan besar-besaran dalam ekspor, pengeluaran pemerintah dan inventaris bisnis, serta peningkatan impor.

Penurunan yang terjadi pada kuartal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat tahun sebelumnya yang lebih besar dari perkiraan, yaitu sebesar 6,9 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh lonjakan ekspor dan peningkatan investasi oleh dealer mobil.
 
Baca juga: Ledakan Inflasi Buat Aktivitas Bisnis AS Melambat Signifikan di Juni

Para ekonom menyerukan kembalinya pertumbuhan kuartal ini untuk menghindari pertumbuhan PDB negatif berturut-turut selama dua kuartal. Sebab hal tersebut sudah termasuk dalam resesi teknis. Namun para ahli telah memperingatkan adanya kemungkinan pertumbuhan resesi di tahun depan.

Catatan penelitian dan hasil analisis S&P Global Ratings mengatakan kebijakan agresif Federal Reserve untuk memerangi lonjakan harga yang sedang berlangsung justru akan mengantarkan pertumbuhan ekonomi yang rendah tahun ini dan berpotensi menimbulkan risiko resesi.

Hasil riset S&P mencatat peluang resesi pada 2023 sebesar 40 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan hasil riset milik Morgan Stanley, yaitu 35 persen.

Meskipun ekonomi bangkit dengan cepat setelah resesi covid-19 di 2020, terjadi ketidakpastian pasar yang diakibatkan oleh penarikan langkah-langkah stimulus pandemi oleh Fed, invasi Rusia ke Ukraina, serta pembatasan covid-19 yang berkelanjutan.

Pada kuartal terakhir, pasar saham mencatat performa terburuk sejak jatuhnya pasar pada awal 2020. Laporan S&P mencatat sebesar lima persen, sedangkan Nasdaq sebesar sembilan persen.

"Risiko resesi tinggi-sangat tinggi-dan meningkat. Agar ekonomi dapat berjalan tanpa mengalami penurunan, kita membutuhkan pembuat kebijakan yang sangat cekatan dari The Fed dan sedikit keberuntungan," kata kepala ekonom di Moody's Analytics, Mark Zandi, dalam catatan baru-baru ini. (Diza Shafira Wardoyo)

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id