Ketidakpastian Stimulus Covid-19 Buat Wall Street Ambruk

    Angga Bratadharma - 16 Oktober 2020 07:29 WIB
    Ketidakpastian Stimulus Covid-19 Buat Wall Street Ambruk
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Indeks utama di bursa saham Wall Street ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Tekanan terjadi karena investor cemas dengan ketidakpastian negosiasi stimulus paket bantuan covid-19 yang baru.

    Mengutip Xinhua, Jumat, 16 Oktober 2020, indeks dow Jones Industrial Average turun 19,80 poin atau 0,07 persen menjadi 28.494,20. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 5,33 poin atau 0,15 persen menjadi 3.483,34. Kemudian indeks Komposit Nasdaq turun 54,86 poin atau 0,47 persen menjadi 11.713,87 poin.

    Sebanyak lima dari 11 sektor utama S&P 500 turun, dengan sektor perawatan kesehatan turun 0,72 persen, memimpin kelompok penurunan. Sedangkan sektor energi naik sebanyak 1,17 persen, kelompok dengan kinerja terbaik.

    Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah, dengan delapan dari 10 saham teratas menurut bobot di indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram. Investor semakin khawatir atas ketidakpastian nasib kesepakatan stimulus virus korona AS.

    "Tampaknya tidak mungkin kita akan mendapatkan (stimulus baru berupa bantuan covid-19) sebelum pemilihan (presiden)," kata Analis Zacks Investment Research Kevin Matras.

    Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah klaim pengangguran AS lebih buruk dari perkiraan juga membebani pasar. Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, meningkat 53 ribu menjadi 898 ribu dalam pekan yang berakhir 10 Oktober. Ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan klaim baru jatuh di level 825 ribu.

    "Klaim naik ke level tertinggi dalam dua bulan pekan lalu, menunjukkan pemulihan kehilangan tenaga. Kenaikan klaim mengganggu (upaya pemulihan)," kata Kepala Ekonom FHN Financial Chris Low.

    Sementara itu, jenis globalisasi baru, yang menampilkan lebih banyak inklusivitas dan inovasi, akhirnya akan menjadi tren baru di era pasca-pandemi. Meski sentimen anti-globalisasi meningkat dapat terus merajalela satu atau dua tahun setelah covid-19 berkurang, namun globalisasi pada akhirnya akan menang.
     
    "Tidak ada negara yang dapat menangani resesi yang dipicu oleh virus korona sendiri," tulis Wakil Ketua Pusat Pertukaran Ekonomi Internasional Tiongkok Wei Jianguo, yang juga mantan wakil menteri perdagangan.

    Dia menjelaskan jenis baru globalisasi akan lebih menjembatani kesenjangan pembangunan di antara berbagai negara dan wilayah, menciptakan lingkungan yang lebih adil yang menampilkan kerja sama yang saling menguntungkan.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id