Survei: Ekonomi Global Diprediksi Rentan pada Awal 2021

    Arif Wicaksono - 22 Februari 2021 14:29 WIB
     Survei: Ekonomi Global Diprediksi Rentan pada Awal 2021
    Ekonomi global. Foto : Medcom.



    Jakarta: ACCA (the Association of Chartered Certified Accountants) dan IMA ® (Institute of Management Accountants) merilis survei terbaru Global Economic Conditions Survey (GECS).

    Survei tersebut menunjukkan pada awal 2021, optimisme global mengalami stagnasi dan kerentanan. Mayoritas respons dari survei tersebut mengatakan hal itu disebabkan oleh kondisi pandemi yang sedang terjadi.




    Lebih lanjut, survei yang dilaksanakan pada 20 November hingga 8 Desember 2020 ini melibatkan 3.086 respons dari anggota ACCA dan IMA, termasuk 300 peserta dari CFO, dan melibatkan 3.000 akuntan senior dari seluruh dunia.

    Survei dari ACCA dan IMA mencatat ekonomi global mengalami kontraksi sekitar 4,5 persen pada 2020. Ini merupakan angka penurunan terbesar aktivitas global dalam beberapa dekade terakhir.

    Kondisi ekonomi global kembali mengalami penurunan akibat gelombang kedua pandemi covid-19 yang memicu lockdown berikutnya. Survei ini memperkirakan kemungkinan terjadinya pemulihan yang stabil pada 2021.

    Namun di sisi lain, ketidakpastian berkelanjutan dinilai dapat menghambat kepercayaan konsumen dan bisnis. Diperkirakan bisnis dapat rebound ke posisi sebelum krisis baru akan tercapai pada pertengahan 2022.

    Head of ACCA USA Warner Johnston mengungkapkan tahun lalu merupakan tahun terburuk bagi ekonomi global dalam beberapa dekade terakhir.

    "Kita akan melihat pemulihan di 2021, namun belum bisa dipastikan kapan dan seberapa kuat. Kami memperkirakan permulaannya akan lemah, yang diikuti oleh momentum pemulihan di paruh kedua. Banyak hal bergantung pada evolusi virus covid-19 dan variannya terkait dengan kemajuan program vaksinasi, dan ada ketidakpastian yang sangat besar seputar perkembangan ini," kata dia dalam keterangan resminya, Senin, 22 Februari 2021.

    Sementara itu Vice President of Research dan Policy IMA Raef Lawson mengatakan pandemi telah membuat jutaan orang jatuh ke kemiskinan yang ekstrem karena resesi yang dialami pasar berkembang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir pada tahun lalu.

    "Respons kebijakan terhadap pandemi ini telah membuat keuangan publik di sebagian besar ekonomi dalam keadaan buruk, yaitu dengan defisit anggaran sekitar 10-15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di beberapa negara, dan dengan rasio utang terhadap PDB lebih dari 100 persen. Semua ini menjadi tantangan besar bagi para pembuat kebijakan untuk menentukan kapan harus menarik dukungan kebijakan dan kapan kebijakan harus diperketat untuk membangun kembali keuangan publik. Kesalahan kebijakan akan berisiko kegagalan pemulihan ekonomi," kata Raef.

    Chief Economist ACCA Michael Taylor menyatakan sejak survei selesai dilakukan Desember lalu, terlihat ada peningkatan tingkat infeksi covid-19 yang mendorong negara-negara untuk memberlakukan kembali kebijakan pembatasan sosial, termasuk lockdown nasional yang kemudian lebih jauh menyebabkan memburuknya prospek ekonomi global pada awal 2021 sejak survei pada kuartal IV.

    Pada waktu yang bersamaan, semakin progresifnya pengadaan vaksin meningkatkan harapan perbaikan kondisi ekonomi hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, di sisi yang berseberangan, tingkat pengangguran akan meningkat di banyak negara yang berpotensi merusak kepercayaan konsumen dan membatasi kekuatan perusahaan untuk rebound.

    Lebih jauh, Raef menambahkan ada risiko signifikan terhadap prospek tahun depan. "Banyak hal bergantung kepada evolusi virus covid-19 dan variannya, tingkat infeksi dan kecepatan serta efektivitas program vaksinasi yang berjalan," jelas dia.

    Ia berkata kelemahan ekonomi pada awal 2021, ketika virus mendominasi menjadi perhatian utama, yang diikuti oleh momentum pengumpulan pemulihan di akhir tahun ketika program vaksinasi sudah mulai berjalan yang menimbulkan risiko signifikan. Selain itu, ada kemungkinan risiko lain yang juga dapat terjadi.

    "Kemunculan varian virus covid-19 yang diindikasikan kebal terhadap vaksin, efek samping yang tidak diharapkan, dan minimnya implementasi program vaksin juga merupakan risiko yang bersinggungan dengan faktor kesehatan dan dapat menyebabkan penyimpangan jalur pemulihan," tutupnya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id