comscore

BoJ: Kebijakan Ultra Longgar Perlu Dipertahankan untuk Pacu Inflasi

Angga Bratadharma - 28 Juni 2022 13:03 WIB
BoJ: Kebijakan Ultra Longgar Perlu Dipertahankan untuk Pacu Inflasi
Ilustrasi. FOTO: AFP
Tokyo: Anggota Dewan Bank of Japan (BoJ) melihat perlunya mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar untuk menopang upah dan memacu kenaikan inflasi yang didorong oleh permintaan. Hal itu terungkap dalam ringkasan pendapat pada pertemuan kebijakan Juni bank sentral Jepang.

"Penurunan tajam yen akan merugikan ekonomi Jepang dengan meningkatkan ketidakpastian atas prospek," kata salah satu Anggota Dewan BOJ pada pertemuan tersebut, dilansir dari The Business Times, Selasa, 28 Juni 2022.
Pada pertemuan 16-17 Juni, BoJ mempertahankan suku bunga sangat rendah dan berjanji untuk mempertahankan batasnya pada imbal hasil obligasi dengan pembelian tak terbatas. Upaya itu melawan gelombang pengetatan moneter global dalam menunjukkan tekad untuk fokus mendukung pemulihan ekonomi yang hangat.
 
Baca: Pemerintah Berkomitmen Perkuat Kepastian Hukum Diaspora RI di Luar Negeri

Di sisi lain, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memperjelas pandangannya bahwa BoJ harus mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar saat ini. Hal tersebut ditekankan meski tingkat inflasi secara perlahan mulai naik dan memberikan pengaruh terhadap perekonomian.

"Kebijakan moneter tidak hanya memengaruhi nilai mata uang, tetapi ekonomi dan bisnis perusahaan kecil. Faktor-faktor tersebut harus diperhitungkan secara komprehensif," kata Kishida.

Kebijakan moneter

Kishida kemudian bertanya kepada Yuichiro Tamaki, yang memimpin oposisi kecil Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP), tentang pandangan partainya terhadap kebijakan moneter. Tamaki mengatakan BoJ harus mempertahankan suku bunga ultra-rendah saat ini, dengan alasan pengetatan kebijakan moneter tidak terpikirkan.

Mempertahankan kebijakan ultra longgar diperlukan karena jika tidak akan mendorong tingkat hipotek dan biaya pinjaman perusahaan. "Saya setuju dengan Anda bahwa Jepang seharusnya tidak mengubah kebijakan moneter," kata Kishida setelah mendengarkan komentar Tamaki.

Pasar dipenuhi dengan spekulasi bahwa BoJ dapat mengubah kebijakan kontrol kurva imbal hasil (YCC) dan memungkinkan imbal hasil obligasi naik lebih banyak untuk mencegah yen jatuh lebih jauh dan menggembungkan biaya impor bahan bakar dan makanan. Kishida berbicara dalam debat dengan para pemimpin lain dari partai politik menjelang pemilihan majelis tinggi.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id