Harga Minyak Dunia Jatuh di Tengah Wabah Covid-19

    Antara - 21 Maret 2020 09:01 WIB
    Harga Minyak Dunia Jatuh di Tengah Wabah Covid-19
    Ilustrasi. AFP PHOTO/JEAN-SEBASTIEN EVRARD
    New York: Minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), jatuh 10,7 persen pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), mencatat kerugian mingguan terbesar sejak Perang Teluk 1991 ketika pandemi virus korona mengeringkan permintaan global.

    Kondisi itu juga dipengaruhi oleh sikap Washington yang memutuskan untuk mengutus seorang menuju Arab Saudi guna menangani dampak dari perang harga minyak Saudi-Rusia. Minggu ini menampilkan penjualan besar-besaran selama empat hari karena pandemi yang terus meningkat membuat orang tidak bisa mengemudi dan memesan tiket penerbangan.

    Peramal utama seperti raksasa perdagangan Vitol dan peneliti energi IHS Markit mengatakan permintaan minyak bisa turun sebanyak 10 persen. Harga minyak naik tajam pada Kamis waktu setempat setelah hari-hari dilanda penjualan, tetapi reli tidak berlangsung lama.

    Mengutip Antara, Sabtu, 21 Maret 2020, minyak mentah berjangka Brent turun USD1,49 atau 5,2 persen menjadi USD26,98 per barel. Minyak mentah berjangka AS untuk April turun sebanyak USD2,69 atau 10,7 persen menjadi USD22,53 per barel.

    Harga minyak mentah AS mencatat kerugian mingguan sebesar 29 persen, yang paling curam sejak awal Perang Teluk AS/Irak di tahun 1991. Minyak mentah Brent turun sebesar 20 persen. Kedua acuan ukur telah jatuh selama empat minggu berturut-turut.

    “Dengan ekonomi yang terus terhenti, semakin jelas penghancuran permintaan terus meningkat. Apa pun upaya yang dilakukan untuk memangkas produksi di AS dan belanja modal, itu tidak cukup sekarang," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.

    Kontrak minyak AS bulan depan berakhir pada Jumat waktu setempat (Jumat WIB). Sementara kontrak minyak mentah AS yang lebih aktif untuk Mei ditutup turun sebanyak USD3,28 atau 12,7 persen menjadi sebesar USD22,63 per barel.

    Minyak mentah AS telah kehilangan setengah nilainya dalam dua minggu terakhir, dan Brent telah turun sekitar 40 persen, karena pandemi virus korona telah memangkas permintaan pada saat yang sama dengan gagalnya pengurangan produksi yang terkoordinasi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutu termasuk Rusia.

    Para pejabat AS bergegas untuk merespons dengan mengatakan mereka akan mengirim pejabat Departemen Energi AS ke Arab Saudi selama beberapa bulan untuk bekerja dalam menstabilkan pasar energi. Juga, regulator negara bagian Texas berbicara dengan Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo tentang kemungkinan pengurangan produksi global.

    Regulator Texas belum melakukan intervensi untuk memangkas produksi di antara produsen negara itu sejak 1973. American Petroleum Institute menentang gagasan itu dengan mengatakan kuota tidak bekerja. "Sejauh tanggapan terkoordinasi dengan OPEC, sulit untuk melihat rencana datang bersama di sepanjang garis itu," kata Kilduff.
     



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id