Uni Eropa Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Makin Kuat, Tapi...

    Ade Hapsari Lestarini - 15 Mei 2021 09:05 WIB
    Uni Eropa Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Makin Kuat, Tapi...
    Ilustrasi bendera Uni Eropa. Foto: AFP.



    Roma: Komisi Eropa memperkirakan rebound agresif untuk ekonomi blok 27 negara, Uni Eropa, meskipun analis mengatakan masih banyak potensi jebakan yang dapat mengalihkan pemulihan.

    Melansir Xinhua, Sabtu, 15 Mei 2021, Komisi Eropa memperbarui model perkiraan ekonomi untuk negara anggota menjadi 4,2 persen tahun ini, naik dari 3,7 persen dalam perkiraan sebelumnya, dari Februari.

     



    Selain itu diperkirakan pertumbuhan 4,4 persen lebih lanjut pada 2022, juga lebih kuat dari perkiraan 3,9 persen dalam perkiraan tiga bulan lalu. Jika perkiraan tersebut terbukti akurat, itu berarti ekonomi Eropa akan pulih dari kontraksi 6,4 persen pada 2020 di beberapa titik tahun depan.

    "Pemulihan bukan lagi fatamorgana. Ini sedang berlangsung," kata Komisaris Eropa untuk Ekonomi dan mantan perdana menteri Italia, Paolo Gentiloni, ketika ramalan itu diumumkan.

    "Setelah awal tahun yang lemah, kami sekarang memproyeksikan pertumbuhan yang kuat di 2021 dan 2022. Hari ini, untuk pertama kalinya sejak pandemi melanda, kami melihat beberapa optimisme menguasai ketidakpastian," jelasnya.

    Dalam perkiraannya, Uni Eropa memang mengakui ada risiko terkait dengan rekor utang tertinggi. Serta tingkat defisit terkait peningkatan pengeluaran pemerintah yang bertujuan untuk mencegah dampak terburuk pandemi virus korona, yang mulai berdampak besar pada ekonomi di Eropa pada Februari 2020.

    Tetapi risiko-risiko itu lebih dari diimbangi oleh faktor-faktor positif seperti peluncuran vaksin virus korona yang semakin cepat di seluruh benua. Serta dorongan ekonomi yang berasal dari dana pemulihan ekonomi Uni Eropa.

    Menurut Kepala Ekonom Jerman pada bank investasi ING yang berbasis di Belanda, Carsten Brzeski, faktor positif lainnya untuk ekonomi Eropa termasuk peningkatan kinerja ekonomi di Tiongkok dan Amerika Serikat, yang akan memiliki efek riak di seluruh dunia dan akan membantu meningkatkan ekspor Eropa.

    "Selama tidak ada kejutan negatif, perkiraan terhadap ekonomi Eropa tampaknya sangat masuk akal," kata Brzeski kepada Xinhua.

    Brzeski mengidentifikasi gangguan rantai pasokan terkait dengan pandemi. Serta adanya gelombang baru infeksi covid-19 yang berpotensial akan turun.

    "Situasi keseluruhan sekarang terlihat jauh lebih kuat daripada yang terjadi beberapa bulan lalu. Saya pikir potensi masalah jangka pendek adalah faktor-faktor yang paling buruk akan menunda pemulihan dan tidak menggagalkannya," paparnya.

    Pendiri dan kepala ekonom LC Macro Advisors dan profesor tamu di London School of Economics, Lorenzo Codogno, mengatakan ada juga risiko kecil bahwa galur virus korona baru juga dapat berdampak negatif jika terbukti kebal terhadap vaksin utama, yang digunakan di Eropa.

    Tetapi Codogno mengatakan tantangan lain bagi para pejabat Eropa adalah mengelola ekspektasi untuk pemulihan ekonomi benua itu.

    "Perkiraan itu memperkirakan pertumbuhan lebih dari empat persen untuk dua tahun ke depan. Tahun ini, pertumbuhan akan dilihat sebagai pemulihan dari tahun yang sangat sulit di 2020," kata Codogno kepada Xinhua.

    "Tapi tahun depan, ini bisa terasa seperti kelanjutan sederhana dari pemulihan atau semacam ledakan ekonomi yang memicu optimisme baru. Saya pikir perbedaannya akan didasarkan pada ekspektasi yang dimiliki orang Eropa," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id