comscore

Gawat! Sri Lanka Alami Gagal Bayar Pertama di Negara Berkembang

Fetry Wuryasti - 20 Mei 2022 11:40 WIB
Gawat! Sri Lanka Alami Gagal Bayar Pertama di Negara Berkembang
Ilustrasi bendera Sri Lanka - - Foto: dok AFP
Jakarta: Sri Lanka mengalami default sovereign bond atau gagal bayar pertama untuk negara berkembang imbas lonjakan harga komoditas yang menguras anggaran negara tersebut.
 
Pemerintah Sri Lanka gagal membayar kupon sebesar USD78 juta pada 18 April lalu untuk obligasi yang jatuh tempo pada 2023 dan 2028. Default ini merupakan yang pertama, sehingga Lembaga Pemeringkat Internasional, S&P, menurunkan peringkat sovereign menjadi Selective Default (SD).

Peringkat obligasinya diturunkan menjadi Default (D) setelah dikonfirmasi pembayaran tidak dapat dilakukan usai masa tenggang pembayaran kupon selama satu bulan juga.
"Namun, ternyata hal tersebut semakin menekan anggaran negara, hingga menyebabkan default sovereign bond Sri Lanka, sebuah negara di Kawasan Asia Selatan yang berbatasan dengan India," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Jumat, 20 Mei 2022.

Perusahaan Aset Manajemen, BlackRock dan Ashmore merupakan salah satu pemegang utama obligasi Sri Lanka. Upaya dilakukan untuk merestrukturisasi dengan kreditur termasuk dua perusahaan manajemen tersebut.

Pemerintah Sri Lanka tengah meminta bantuan dari Lembaga Dana Moneter (IMF). Dana yang ditaksir untuk dapat keluar dari krisis utang tersebut sebesar USD3 miliar-USD4 miliar untuk tahun ini.

Dikabarkan pula, rencana barunya untuk melakukan rencana barunya untuk melakukan privatisasi atau menjual saham maskapai penerbangan nasional. Sri Lanka bahkan kekurangan stok bahan bakar. Pemerintahnya pun menghimbau masyarakat untuk tidak mengantri di pom bensin karena memang tidak ada persediaan.

Saat kapal minyak sudah berada di perairan Sri Lanka, tidak ada mata uang dolar untuk membayar. Utangnya sebesar USD53 juta atas pengiriman minyak sebelumnya dengan supplier yang sama.

Kini total utang luar negeri Sri Lanka telah mencapai USD51 miliar. Sementara cadangan devisa mereka hanya sekitar USD25 juta. Gagal bayar Sri Lanka memberikan peringatan terhadap sovereign bond negara-negara berkembang mengenai krisis yang mungkin terjadi ke depan.

Apalagi situasinya saat ini semakin sulit di kala The Fed dan Bank Sentral lainnya menaikkan tingkat suku bunga, untuk menghantam gerak inflasi yang semakin liar. Hal ini membawa beban pembiayaan/cost of fund semakin tinggi.

Setidaknya ada 14 negara ekonomi berkembang ditaksir mengalami excess yield atau selisih imbal hasil hingga 1.000 bps atas US Treasury, dengan batas utangnya sudah mengalami tekanan.

"Jangankan 1.000 bps, spread sebesar 400 bps saja sudah tidak memberikan daya tarik untuk melakukan investasi," pungkas Nico.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id