JPMorgan: Investor Harus Lewati 'Kebisingan' Pilpres AS

    Angga Bratadharma - 08 Oktober 2020 09:45 WIB
    JPMorgan: Investor Harus Lewati 'Kebisingan' Pilpres AS
    Ilustrasi. FOTO: RBS
    Singapura: JPMorgan Asset Management berpandangan ketidakpastian yang membayangi Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada November membuat investor harus melewati 'kebisingan' itu dengan fokus pada jangka menengah. Diharapkan ketidakpastian segera berakhir guna mendukung upaya pemulihan ekonomi.

    "Dalam kurun waktu enam bulan mendatang kami pikir pandangan siklus (ekonomi) lebih penting daripada kebisingan di sekitar Pilpres AS," kata Ahli Strategi Multi-Aset JPMorgan Asset Management Patrik Schowitz, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 8 Oktober 2020.

    Schowitz tidak menampik banyak risiko yang menghadang di depan selama satu atau dua bulan ke depan sehingga perusahaan harus mengimbangi kondisi tersebut. "Kami telah mengurangi risiko, sedikit mengurangi ukuran pemosisian di seluruh portofolio kami. Tetapi kami belum benar-benar mengubah arah (bisnis)," tuturnya.

    Dirinya mengatakan arah bisnis di JPMorgan Asset Management sekarang masih didominasi oleh pengaruh resesi dan siklus ekonomi di kenormalan baru. "Arah bagi kami masih didominasi oleh fakta bahwa kami sedang melalui resesi. Kami memasuki siklus ekonomi berikutnya dan untuk pasar serta ekonomi harus naik," ucapnya.

    Terkait keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan pembahasan stimulus tambahan virus korona dengan Demokrat sampai Pilpres pada November, Schowitz menilai jauh lebih baik jika stimulus diberikan guna menopang pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19.

    "Akan lebih baik untuk mendapatkan stimulus sekarang. Tetapi selama kita mendapatkannya di awal tahun depan, kami pikir ekonomi akan mampu melewati itu," jelasnya.

    "Sepertinya kedua belah pihak, apakah itu Biden atau Trump pada dasarnya berniat untuk memberi putaran stimulus lain (terkait bantuan virus korona tambahan). Semua orang ingin mendapatkan kesempatan lain, mereka hanya ingin nama mereka tertera di sana," tuturnya.

    Sedangkan pejabat Federal Reserve AS menyatakan keprihatinannya karena pemulihan ekonomi AS dapat goyah jika Kongres gagal menyetujui kesepakatan tambahan bantuan virus korona, menurut risalah pertemuan kebijakan terbaru Fed. Bahkan, pejabat Fed percaya meski ekonomi AS pulih, tetap ada ancaman yang berkelanjutan.

    "Para peserta terus melihat ketidakpastian seputar prospek ekonomi yang sangat tinggi. Dengan arah ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan virus yaitu pada bagaimana individu, bisnis, dan pejabat publik menanggapinya serta pada efektivitas langkah-langkah kesehatan yang dilakukan masyarakat untuk mengatasinya," kata risalah Fed.

    Kepala Ekonom FHN Financial Chris Low menilai the Fed cukup senang dengan perkembangan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Namun, kondisi itu belum sesuai dengan harapan the Fed. "Masih ada dukungan luas untuk lebih banyak bantuan fiskal, dan kekhawatiran di antara peserta tidak adanya bantuan tambahan bisa mengganggu perekonomian," kata Low.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id