comscore

2 Mata Uang Ini Berjuang Mati-matian Lawan Omicron

Antara - 06 Desember 2021 12:03 WIB
2 Mata Uang Ini Berjuang Mati-matian Lawan Omicron
Mata uang dolar Australia. Foto: AFP/Torsten Blackwood.
Sydney: Mata uang antipodean (dolar Australia dan Selandia Baru) berjuang untuk mendapatkan pijakan terhadap dolar AS pada perdagangan Senin pagi. Apalagi, perjuangan ini terjadi di tengah ketidakpastian seputar varian Omicron dan ekspektasi data inflasi AS yang lebih panas, sehingga akan mendorong kenaikan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan.

Melansir Antara, Senin, 6 Desember 2021, mata uang kripto menanggung kerugian besar dari akhir pekan yang liar yang sempat menghancurkan bitcoin lebih dari 20 persen. Bitcoin berada di level USD49 ribu pada Senin.

 



Mata uang antipodean memimpin upaya penguatan di awal perdagangan Asia karena terbantu oleh pengamatan awal dari Afrika Selatan yang menunjukkan pasien Omicron memiliki gejala relatif ringan.

Dolar Australia terangkat 0,3 persen menjadi 0,7016 dolar AS, naik dari level terendah dalam 13 bulan. Sementara dolar Selandia Baru terdongkrak 0,1 persen menjadi 0,6750 dolar AS.

Selain itu, mata uang safe haven yen turun 0,1 persen pada Senin pagi menjadi 113 per dolar dengan suasana hati-hati yang lebih cerah. Meskipun analis memperkirakan kenaikan bergelombang ke depan dengan perdagangan yang kemungkinan besar sensitif terhadap berita Omicron dan data inflasi AS pada Jumat, 10 Desember 2021.

Euro terakhir stabil di 1,1303 dolar AS dan poundsterling stabil di 1,3232 dolar AS. "Mungkin kita harus mencari volatilitas daripada tren," kata analis di ANZ Bank.

Pengukur volatilitas untuk dua mata uang ini babak belur pada Jumat, 3 Desember 2021 mencapai tertinggi dalam sekitar delapan bulan sehingga dua mata uang tersebut merosot. Sedikit yang diketahui tentang Omicron, sekarang ditemukan di sekitar sepertiga negara bagian AS, dengan kasus juga terdeteksi di Eropa, Asia, dan Afrika Selatan.

Sebuah artikel oleh Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan berdasarkan pengamatan awal di Pretoria mengatakan mayoritas pasien covid-19 mengakui mereka tidak bergantung pada oksigen -gambaran yang lebih baik daripada gelombang virus sebelumnya.

Perputaran di pasar obligasi pemerintah juga telah membuat bingung para pedagang dalam beberapa sesi terakhir karena kurva imbal hasil AS telah mendatar tajam di tengah ekspektasi Federal Reserve segera bergerak untuk memadamkan inflasi dan pada akhirnya membatasi kenaikan jangka panjang.

Laporan pekerjaan AS yang beragam minggu lalu tidak banyak menggoyahkan ekspektasi pasar tentang pengetatan yang lebih agresif dan laporan harga konsumen yang akan dirilis pada Jumat pekan ini tampak akan menjadi alasan lain untuk tapering lebih awal dan memberikan dukungan terhadap dolar.

Indeks dolar AS memulai minggu ini dengan stabil di 96,211, dalam kisaran puncak pada November di 96,938. Pasar berjangka suku bunga, telah menaikkan perkiraan suku bunga AS sekitar pertengahan tahun depan, tetapi hanya mencapai setinggi sekitar 1,5 persen bahkan hingga akhir 2026 dan para pedagang waspada terhadap perubahan dengan cepat itu.

"Ini sulit untuk didamaikan. Ini menunjukkan pasar memperkirakan Fed menghentikan kenaikan (suku bunga) setelah lima kenaikan, jauh dari perkiraan median Fed," kata Kepala Penelitian di broker Pepperstone, Chris Weston.

Weston mengatakan jika angka inflasi tahun-ke-tahun di atas tujuh persen -terhadap ekspektasi ekonom sebesar 6,7 persen- dapat mengguncang segalanya. "Inflasi dengan angka tujuh persen sebagai angka besar yang akan membuat dolar AS lebih tinggi," katanya.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id