comscore

Tak Mampu Lagi Menanggung Beban Lockdown, Asia Tenggara Mulai Buka Kembali Perekonomian

Angga Bratadharma - 16 September 2021 11:05 WIB
Tak Mampu Lagi Menanggung Beban <i>Lockdown</i>, Asia Tenggara Mulai Buka Kembali Perekonomian
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Singapura: Negara-negara di Asia Tenggara perlahan-lahan menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi menanggung dampak dari pembatasan aktivitas yang melumpuhkan ekonomi meski dilakukan untuk menekan pandemi covid-19. Tidak dipungkiri, keberadaan virus mematikan itu yang melanda dunia memberi efek buruk signifikan.

Adapun di lantai pabrik Vietnam dan Malaysia, di tempat pangkas rambut di Manila atau menara perkantoran Singapura, regulator mendorong rencana untuk membuka kembali aktivitas bisnis. Regulator berusaha menyeimbangkan pengendalian virus dengan membuat orang dan uang tetap bergerak.
Hal itu mengarah ke berbagai eksperimen termasuk makanan yang dikirim oleh militer, pekerja yang diasingkan, penguncian mikro, dan akses khusus vaksin ke restoran dan kantor. Berbeda dengan Eropa dan Amerika Serikat (AS), yang telah bergerak ke jalur pembukaan kembali karena akselerasi vaksinasi covid.

Adapun tingkat vaksinasi yang rendah di kawasan Asia Tenggara menjadikannya salah satu yang paling rentan di dunia terhadap varian delta. Tetapi dengan keuangan negara yang diregangkan oleh putaran stimulus sebelumnya dan berkurangnya kekuatan kebijakan moneter, penguncian menjadi kurang dapat dipertahankan dari hari ke hari.

"Ini adalah keseimbangan yang rumit antara kehidupan dan mata pencaharian," kata Ekonom Australia & Selandia Baru Banking Group Krystal Tan, dilansir dari The Business Times, Kamis, 16 September 2021.

Ia mencatat bahwa Singapura telah berjuang dengan lonjakan infeksi meskipun memiliki tingkat vaksinasi terkemuka di dunia "Risiko pembukaan kembali stop-start lebih tinggi di wilayah lain, di mana cakupannya jauh lebih rendah," tuturnya.

Penutupan pabrik di Asia Tenggara telah beriak di seluruh dunia untuk menciptakan cegukan rantai pasokan, dengan pembuat mobil termasuk Toyota Motor memangkas produksi, dan pengecer pakaian Abercrombie & Fitch memperingatkan situasinya 'di luar kendali'.

Sementara itu, tingkat kematian harian di banyak negara Asia Tenggara telah melampaui rata-rata global, membantu mendorong mereka ke posisi terbawah Peringkat Ketahanan Covid Bloomberg. Namun, para pejabat semakin khawatir tentang apa artinya secara ekonomi jika pembatasan berlangsung terlalu lama meskipun inokulasi lambat.

Menurut Ekonom OCBC Bank Wellian Wiranto, negara-negara Asia Tenggara sedang lesu baik oleh biaya ekonomi dari putaran penguncian berturut-turut maupun rasa kelelahan yang meningkat di antara populasi mereka saat krisis berlanjut.

"Setiap harapan pembukaan kembali perbatasan yang luas yang dapat memfasilitasi arus perdagangan dan pariwisata di berbagai negara ASEAN akan tetap menjadi mimpi yang jauh," pungkasnya.

 

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id