Kurs Dolar AS Tergelincir

    Angga Bratadharma - 03 Juni 2020 09:03 WIB
    Kurs Dolar AS Tergelincir
    Ilustrasi. FOTO: AFP
    New York: Kurs dolar AS tergelincir di akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Pelemahan terjadi karena selera risiko meningkat di tengah harapan adanya pemulihan ekonomi global yang akhirnya menekan permintaan untuk mata uang safe-haven.

    Mengutip Xinhua, Rabu, 3 Juni 2020, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,16 persen menjadi 97,6758. Pada akhir perdagangan New York pada Selasa, euro naik menjadi USD1,1171 dari USD1,1132 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2541 dari USD1,2493 di sesi sebelumnya.

    Dolar Australia naik menjadi USD0,6887 dibandingkan dengan USD0,6798. Dolar AS membeli 108,71 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 107,59 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9621 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9617 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3515 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3577 dolar Kanada.

    Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat berakhir lebih tinggi pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Penguatan dapat terjadi karena Wall Street menimbang kemungkinan menormalkan kembali kegiatan ekonomi di AS meski sedang terjadi kerusuhan sipil.

    Indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 267,63 poin atau 1,05 persen menjadi 25.742,65. Sedangkan S&P 500 naik 25,09 poin atau 0,82 persen menjadi 3.080,82. Sementara indeks Komposit Nasdaq meningkat sebanyak 56,33 poin atau 0,59 persen menjadi 9.608,37.

    Semua 11 sektor utama S&P 500 mengalami reli, dengan sektor energi dan material masing-masing naik 2,65 persen dan 1,76 persen. Sedangkan protes dan kerusuhan berlanjut di kota-kota di seluruh Amerika Serikat atas kematian orang Afrika-Amerika, George Floyd.

    Investor memantau dengan seksama bahwa kerusuhan nasional akan menjadi kombinasi  yang dapat menyebabkan ekonomi tertekan. Tentu investor berharap pemulihan ekonomi bisa segera terjadi dan nantinya memberi efek positif terhadap gerak pasar saham.

    "Kekuatan ekonomi bangkit kembali tergantung pada menjaga ketakutan serendah mungkin. Ketakutan kemungkinan akan tetap tinggi di seluruh spektrum politik," kata Analis UBS dalam sebuah catatan.

    Sementara itu, Kepala Kepolisian Houston, Texas, Art Acevedo meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tutup mulut. Dia merasa pernyataan Trump hanya akan menyulut amarah warga lebih besar lagi dalam demonstrasi yang sudah sepekan terjadi di Negeri Paman Sam.
     
    "Kepada Presiden AS atas nama seluruh polisi di negara ini, saya harap jika Anda tidak memiliki sesuatu (pernyataan) yang konstruktif, lebih baik Anda tutup mulut," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id