Dividen Global Rontok, Terburuk Sejak Krisis Keuangan 2009

    Antara - 24 Agustus 2020 10:07 WIB
    Dividen Global Rontok, Terburuk Sejak Krisis Keuangan 2009
    Foto: AFP.
    London: Sebuah laporan baru menunjukkan krisis virus korona membuat perusahaan-perusahaan besar dunia memangkas pembayaran dividen antara 17-23 persen tahun ini atau mencapai USD400 miliar. Meskipun sektor-sektor seperti teknologi sedang melawan tren tersebut.

    Mengutip Antara, Senin, 24 Agustus 2020, pembayaran dividen global anjlok USD108 miliar menjadi USD382 miliar pada kuartal kedua tahun ini. Seorang fund manager Janus Henderson telah menghitungnya, serta menyamakan dengan penurunan 22 persen secara tahun ke tahun, dan menjadi yang terburuk sejak 2009.

    Semua kawasan mengalami pembayaran yang lebih rendah kecuali Amerika Utara, namun di Kanada terbukti tangguh. Di seluruh dunia, 27 persen perusahaan memotong dividen mereka, sementara Eropa yang terkena dampak paling parah dengan lebih dari setengahnya melakukannya, serta dua pertiga dari mereka membatalkannya secara langsung.

    "2020 akan menjadi hasil terburuk untuk dividen global sejak krisis keuangan global," kata Janus Henderson dalam laporan yang diterbitkan pada Senin.

    "Kami sekarang memperkirakan dividen global utama turun 17 persen dalam skenario kasus terbaik, setara USD1,18 triliun. Skenario terburuk kami dapat melihat pembayaran dividen jatuh 23 persen menjadi USD1,10 triliun."

    Perincian dari berbagai sektor juga menunjukkan beberapa perbedaan besar. Bank-bank dan perusahaan-perusahaan keuangan lain telah diperintahkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) untuk berhenti membayar dividen, menyumbang setengah dari pengurangan 45 persen penurunan dividen kuartal kedua Eropa menjadi USD77 miliar.

    Para penambang dan perusahaan-perusahaan minyak terpukul parah oleh kemerosotan harga komoditas yang luas dan perusahaan-perusahaan consumer discretionary melihat operasi mereka terpukul keras oleh penguncian pemerintah juga, yang mengakibatkan pembayaran jauh lebih rendah.

    Sebaliknya, dividen perusahaan-perusahaan teknologi dan telekomunikasi dan perawatan kesehatan relatif tidak terpengaruh, dengan dividen mereka masing-masing naik 1,8 persen dan 0,1 persen pada basis yang mendasarinya.

    Ketahanan teknologi besar itu juga telah membantu Microsoft dan Apple masuk ke dalam jajaran sepuluh besar pembayar dividen dunia untuk pertama kalinya tahun ini. Daftar itu masih dipuncaki oleh Nestle, diikuti oleh Rio Tinto, dan China Mobile Limited.

    Berikutnya, Allianz SE, Sanofi, Microsoft Corporation, AT&T Inc, Exxon Mobil Corp, Toyota Motor Corporation, dan Apple Inc.

    "Tren dividen mencerminkan tren di masyarakat dan pasar saham saat ini," kata kepala pendapatan ekuitas global Janus Henderson, Ben Lofthouse.

    "Mungkin kita akan melihat peningkatan dari beberapa bagian di sektor teknologi. Ada banyak neraca yang sangat kuat di area itu," jelasnya.

    Ke depan, kata dia, beberapa faktor kunci akan menentukan seberapa kuat pemulihan dividen nantinya. Yang paling jelas adalah jalur virus korona, tetapi ada juga yang dilakukan perusahaan-perusahaan AS akhir tahun ini dan apakah bank-bank Eropa mendapatkan lampu hijau awal tahun depan untuk memulai kembali pembayaran mereka.

    "Pertanyaan besar bagi AS adalah apa yang akan terjadi pada kuartal keempat. Jika banyak perusahaan melakukan pemotongan dividen yang signifikan, pembayaran akan ditetapkan pada tingkat yang lebih rendah hingga menjelang akhir 2021," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id