comscore

Cetak Rekor! Tiongkok dan AS Pimpin Kenaikan Utang Global Jadi USD305 Triliun

Arif Wicaksono - 19 Mei 2022 19:15 WIB
Cetak Rekor! Tiongkok dan AS Pimpin Kenaikan Utang Global Jadi USD305 Triliun
Ilustrasi ekonomi Tiongkok. Foto : AFP.
New York: Data dari Institute of International Finance (IIF) menunjukkan dua negara dengan ekonomi terbesar dunia meminjam paling banyak pada kuartal pertama, sehingga utang global naik ke rekor di atas USD305 triliun. Sementara rasio utang terhadap output secara keseluruhan menurun.

Data menunjukkan, utang Tiongkok meningkat sebesar USD2,5 triliun selama kuartal pertama dan Amerika Serikat menambahkan USD1,5 triliun. Sementara total utang di zona euro menurun untuk kuartal ketiga berturut-turut.
Analisis menunjukkan banyak negara, baik negara berkembang maupun maju, memasuki siklus pengetatan moneter, dipimpin oleh The Fed dengan tingkat utang berdenominasi dolar yang tinggi.

"Ketika bank sentral bergerak maju dengan pengetatan kebijakan untuk mengekang tekanan inflasi, biaya pinjaman yang lebih tinggi akan memperburuk kerentanan utang," kata laporan IIF, dikutip dari Channel News Asia, Kamis, 19 Mei 2022.

"Dampaknya bisa lebih parah bagi peminjam pasar berkembang yang memiliki basis investor yang kurang terdiversifikasi." jelas dia.

Imbal hasil pada catatan Treasury 10-tahun telah meningkat sekitar 150 basis poin sepanjang tahun ini dan awal bulan ini mencapai level tertinggi sejak 2018.

Utang korporasi di luar bank dan pinjaman pemerintah menjadi sumber terbesar peningkatan pinjaman, dengan utang di luar sektor keuangan naik di atas USD236 triliun, sekitar USD40 triliun lebih tinggi dari dua tahun lalu ketika pandemi covid-19 melanda.

Utang pemerintah meningkat lebih lambat pada periode yang sama, tetapi karena biaya pinjaman meningkat, neraca negara tetap berada di bawah tekanan.

"Dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang masih berjalan jauh di atas tingkat pra-pandemi, harga komoditas yang lebih tinggi dan lebih bergejolak dapat memaksa beberapa negara untuk meningkatkan pengeluaran publik lebih jauh untuk menangkal kerusuhan sosial," kata IIF.

Kurangnya transparansi juga menjadi beban bagi pasar negara berkembang, di mana total utang mendekati USD100 triliun dari USD89 triliun pada tahun lalu. Rasio utang terhadap PDB global turun menjadi 348 persen, sekitar 15 poin persentase di bawah rekor yang ditetapkan tahun lalu, dengan perbaikan besar terlihat di negara-negara Uni Eropa.

"Di balik penguncian ketat di Tiongkok dan kondisi pendanaan global yang lebih ketat, perlambatan yang diantisipasi kemungkinan akan membatasi atau bahkan membalikkan tren penurunan rasio utang," jelas dia.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id