comscore

PBB: Perang Rusia-Ukraina Seret Pertumbuhan Ekonomi Global di Bawah 4%

Antara - 19 Mei 2022 09:32 WIB
PBB: Perang Rusia-Ukraina Seret Pertumbuhan Ekonomi Global di Bawah 4%
Ilustrasi proyeksi ekonomi global 2022 - - Foto: Medcom
New York: Laporan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia (WESP) terbaru PBB memproyeksikan ekonomi global hanya tumbuh 3,1 persen tahun ini. Perkiraan tersebut turun dari sebelumnya 4,0 persen imbas perang Rusia-Ukraina.
 
Adapun konflik di kedua negara tersebut telah mengganggu pemulihan ekonomi dunia, menciptakan krisis kemanusiaan, krisis energi dan krisis pangan serta memperburuk tekanan inflasi.
 
Dengan kenaikan tajam harga pangan dan energi, inflasi global diproyeksikan mencapai 6,7 persen atau lebih naik dua kali lipat dari rata-rata.
 
"Perang di Ukraina -dalam semua dimensinya- memicu krisis yang juga menghancurkan pasar energi global, mengganggu sistem keuangan dan memperburuk kerentanan ekstrem bagi negara-negara berkembang," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Kamis, 19 Mei 2022.
 
Selain negara dengan ekonomi terbesar Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa, sebagian besar negara maju dan berkembang lainnya mengalami penurunan prospek pertumbuhan.
 
Prospek harga energi dan pangan sangat suram untuk negara berkembang yang mengimpor komoditas, dan kerawanan pangan meningkat, terutama di Afrika.
 
Laporan WESP, yang diterbitkan oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (DESA), meneliti bagaimana efek limpahan dari konflik di Ukraina berdampak pada wilayah yang berbeda.
 
Selain kematian tragis dan krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung, operasi militer khusus Rusia juga memiliki dampak ekonomi yang parah di kedua negara. Saat ini ada lebih dari enam juta pengungsi.

Ekonomi Eropa terpuruk

Kenaikan harga energi telah mengejutkan Uni Eropa, yang mengimpor hampir 57,5 persen dari total konsumsi energinya pada 2020. Perekonomian diperkirakan hanya tumbuh 2,7 persen, bukan 3,9 persen yang diprediksi pada Januari.
 
Hampir seperempat konsumsi energi Eropa pada 2020 berasal dari minyak dan gas alam yang diimpor dari Rusia, dan penghentian aliran secara tiba-tiba kemungkinan akan menyebabkan kenaikan harga energi dan tekanan inflasi.
 
Negara-negara anggota Uni Eropa dari Eropa Timur dan kawasan Baltik sangat terpengaruh karena mereka sudah mengalami tingkat inflasi jauh di atas rata-rata Uni Eropa, kata laporan itu.
 
Negara-negara berkembang dan negara-negara kurang berkembang di dunia (LDCs) mengalami inflasi yang tinggi, yang mengurangi pendapatan riil rumah tangga.
 
Hal ini terutama berlaku di negara-negara berkembang, di mana kemiskinan lebih umum, pertumbuhan upah dibatasi, dan dukungan fiskal untuk mengurangi dampak dari harga minyak dan pangan yang lebih tinggi terbatas.
 
Meningkatnya biaya makanan dan energi juga berdampak buruk pada perekonomian lainnya, yang menghadirkan tantangan bagi pemulihan pascapandemi yang inklusif, karena rumah tangga berpenghasilan rendah terpengaruh secara tidak proporsional.
 
"Negara-negara berkembang perlu bersiap menghadapi dampak pengetatan moneter agresif oleh The Fed dan menerapkan langkah-langkah makroprudensial yang tepat untuk membendung arus keluar yang tiba-tiba dan merangsang investasi produktif," kata kepala Cabang Pemantauan Ekonomi Global DESA Hamid Rashid.


(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id