Aksi Jual Berlanjut, Wall Street Ambruk

    Angga Bratadharma - 24 September 2020 07:25 WIB
    Aksi Jual Berlanjut, Wall Street Ambruk
    Ilustrasi. FOTO: Johannes EiseleI/AFP
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah di tengah aksi jual besar-besaran pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Aksi jual itu terjadi lantaran melemahnya indikator makroekonomi yang membayangi prospek pemulihan usai terhantam covid-19.

    Mengutip Xinhua, Kamis, 24 September 2020, indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 525,05 poin atau 1,92 persen menjadi 26.763,13. Sedangkan S&P 500 turun 78,65 poin atau 2,37 persen menjadi 3.236,92. Indeks Komposit Nasdaq merosot 330,65 poin atau 3,02 persen menjadi 10.632,99.

    Seluruh 11 sektor di naungan S&P 500 mengalami kerugian, masing-masing dari sektor energi, teknologi, dan material turun 4,55 persen, 3,21 persen, dan 2,93 persen. Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah, dengan sembilan dari 10 saham teratas mengakhiri hari dengan catatan suram.

    Flash AS Composite Output Index turun menjadi 54,4 pada September dari 54,6 pada bulan sebelumnya, menurut data yang dikeluarkan oleh IHS Markit. Penurunan bulan ke bulan dari Flash Composite Purchasing Managers Index pada September di zona euro dan Inggris juga membebani sentimen pasar.

    "Pertanyaannya sekarang beralih ke apakah kinerja ekonomi yang kuat dapat dipertahankan hingga kuartal keempat. Oleh karena itu, risiko tampaknya condong ke sisi negatif untuk beberapa bulan mendatang, karena bisnis menunggu kejelasan sehubungan dengan gerak pandemi dan kepastian pemilu," kata Kepala Ekonom IHS Markit Chris Williamson.

    Ketua Fed Jerome Powell mendesak Kongres untuk memberikan dukungan fiskal tambahan demi pemulihan ekonomi. Adapun dukungan kebijakan fiskal diperlukan agar ada harmonisasi kebijakan dengan moneter dalam rangka memulihkan perekonomian yang sempat terhantam akibat covid-19.

    Sementara itu, Kantor Anggaran Kongres (CBO) mengatakan utang Amerika Serikat diproyeksikan mencapai hampir dua kali lipat ukuran ekonomi pada 2050. Hal ini didorong oleh respons fiskal besar-besaran terhadap resesi yang dipicu covid-19.
     
    "Bahkan setelah efek pandemi virus korona 2020 memudar, defisit dalam beberapa dekade mendatang diproyeksikan menjadi besar menurut standar historis," kata laporan itu yang memprediksi defisit federal meningkat dari lima persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada 2030 menjadi 13 persen pada 2050.

    Defisit anggaran yang diproyeksikan akan meningkatkan utang federal dari 98 persen PDB pada 2020 menjadi 195 persen dari PDB pada 2050, tepat di bawah dua kali ukuran total ekonomi. "Utang federal yang tinggi dan meningkat membuat ekonomi lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga dan, bergantung pada bagaimana utang itu dibiayai," kata laporan itu.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id