Cerita Negara G20 Kompak Bikin Stimulus Lawan Korona

    Eko Nordiansyah - 25 Maret 2020 07:36 WIB
    Cerita Negara G20 Kompak Bikin Stimulus Lawan Korona
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. AFP PHOTO/SAUL LOEB
    Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan bagaimana negara-negara anggota G20 sama-sama menggelontorkan berbagai stimulus. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi melebarnya dampak krisis akibat virus korona (covid-19).

    "Pada dasarnya, semua negara anggota G20 plus beberapa negara tambahan, semuanya konfirmasi mereka melakukan coordinated policy respons baik dari sisi fiskal dan moneter maupun kebijakan unconventional lain," kata dia, dalam video conference, di Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

    Anggota G20 saat ini sudah mengeluarkan nilai stimulus yang sangat besar, di antaranya Jerman yang sudah mengeluarkan tambahan pengeluaran sebesar USD132 miliar dan menyediakan USD812 miliar sebagai tambahan jaminan, serta Prancis mengeluarkan stimulus senilai USD45 miliar.

    Kemudian Amerika Serikat berencana mengeluarkan paket kebijakan senilai USD1 triliun. Uni Eropa mengeluarkan stimulus senilai USD100,86 miliar, dan Kanada sudah menerbitkan paket kebijakan sebesar USD63,9 miliar.

    Adapun Korea Selatan yang menjadi salah satu pusat pandemi mengeluarkan stimulus senilai USD66 miliar. Australia baru saja mengeluarkan stimulus tambahan sehingga total stimulusnya mencapai USD109 miliar atau 9,7 persen dari PDB.

    "Tiongkok, ekonomi pertama yang terkena, melakukan countercyclical besar dari sisi ekonomi. Termasuk meningkatkan kapasitas dari sektor produksi dalam rangka meningkatkan kemampuan membangun kebutuhan-kebutuhan, terutama alat kesehatan. Tiongkok pun dalam situasi sekarang sudah agak recover," jelas dia.

    Anggota G20 bekerja sama secara bilateral maupun multilateral untuk melakukan restrukturisasi utang negara miskin agar mereka dapat fokus melawan pandemi. Anggota G20 juga menyetujui penyusunan G20 joint action plan yang berisikan respons kebijakan kolektif negara anggota G20. Di tataran pemimpin G20, akan ada pembahasan inisiatif baru untuk mengatasi pandemi penyakit infeksius secara global.

    "Suasana global saat ini berada dalam situasi yang abnormal, Indonesia sebagai anggota G20 terus melakukan koordinasi secara lebih erat dengan anggota G20 lainnya dan menyiapkan langkah-langkah kebijakan extraordinary yang mungkin melampaui batasan yang telah ada," ungkapnya.

    Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) bakal memberikan hingga USD1,5 triliun sebagai fasilitas swapline. Fasilitas yang bersifat berjaga-jaga (precautionary) ini dapat ditarik sewaktu-waktu saat negara mengalami potensi krisis neraca pembayaran atau potensi krisis likuiditas jangka pendek.

    "Ini masih perlu dapat persetujuan dari seluruh shareholder. Dengan tambahan USD500 miliar, diharapkan IMF bisa bantu secara otomatis yang saat ini hadapi capital outflow dan situasi likuiditas dari USD atau hard currency forex yang sangat ketat," ujar dia.

    Kemudian Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) menyetujui pendanaan USD14 miliar, International Development Association (IBRD/IDA) akan menyediakan USD6 miliar untuk mendukung sistem kesehatan. Sebagai tambahan Bank Dunia, termasuk IFC dan Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), juga dapat memberikan pendanaan USD150 miliar dalam 15 bulan mendatang.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id