Pelemahan Sektor Teknologi Picu Wall Street Bervariasi

    Angga Bratadharma - 23 Februari 2021 08:07 WIB
    Pelemahan Sektor Teknologi Picu Wall Street Bervariasi
    Ilustrasi. FOTO: Drew Angerer/AFP



    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir bervariasi pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB) di tengah kemunduran sektor teknologi. Investor tetap berhati-hati di pasar saham saat program vaksinasi terus digencarkan dan di tengah naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.

    Mengutip Xinhua, Selasa, 23 Februari 2021, indeks Dow Jones Industrial Average naik 27,37 poin atau 0,09 persen menjadi 31.521,69. Indeks S&P 500 merosot 30,21 poin atau 0,77 persen menjadi 3.876,50. Indeks Komposit Nasdaq merosot 341,41 poin atau 2,46 persen menjadi 13.533,05.




    Sebanyak enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi menguat sebanyak 3,47 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor teknologi tertekan sebanyak 2,26 persen, menjadi yang paling lemah.

    Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah. Sembilan dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram.

    Pergerakan pasar ini terjadi karena kenaikan imbal hasil obligasi memicu kekhawatiran bahwa pasar saham, terutama saham teknologi melambung ke level tertinggi dan menjadi terlalu mahal. Imbal hasil pada obligasi Pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 1,36 persen pada Senin, setelah melompat ke level tertinggi sejak Februari 2020 pekan lalu.

    Untuk pekan yang berakhir Jumat, pasar saham AS membukukan hasil beragam karena Wall Street menilai kemungkinan stimulus fiskal lebih lanjut, sambil memilah-milah banyak data ekonomi. Dow mencatat kenaikan mingguan 0,1 persen, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite turun masing-masing 0,7 persen dan 1,6 persen.

    Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan paket stimulus dalam cakupan besar masih diperlukan untuk mengembalikan ekonomi ke kekuatan penuh. Paket tersebut ditekankan meski momentum menunjukkan bahwa pertumbuhan dimulai lebih cepat dari yang diperkirakan pada 2021.
     
    Ia mengatakan proposal USD1,9 triliun dapat membantu AS kembali ke pekerjaan penuh dalam setahun. "Kami pikir sangat penting untuk memiliki paket besar (yang) mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan (akibat pandemi covid-19)," kata Yellen.
     
    Yellen mengaku tidak khawatir bahwa semua pengeluaran pemerintah dapat menurunkan inflasi. "Inflasi telah sangat rendah selama lebih dari satu dekade, dan Anda tahu itu adalah risiko, tetapi itu adalah risiko yang harus ditangani oleh Federal Reserve dan yang lainnya," pungkasnya.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id