Pembahasan Stimulus Covid-19 Berlanjut, Wall Street Menghijau

    Angga Bratadharma - 10 Oktober 2020 07:41 WIB
    Pembahasan Stimulus Covid-19 Berlanjut, Wall Street Menghijau
    Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
    New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Penguatan bursa Wall Street terjadi lantaran didorong oleh katalis positif berupa berlanjutnya pembahasan mengenai stimulus covid-19 yang sempat dihentikan.

    Mengutip Xinhua, Sabtu, 10 Oktober 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik 161,39 poin atau 0,57 persen menjadi 28.586,90. Sedangkan S&P 500 naik 30,30 poin atau 0,88 persen menjadi 3.477,13. Kemudian indeks Komposit Nasdaq naik 158,96 poin atau 1,39 persen menjadi 11.579,94.

    Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 menguat dengan sektor teknologi naik 1,54 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor energi tergelincir sebanyak 1,58 persen, kelompok dengan kinerja terburuk. Sedangkan Menkeu AS Steven Mnuchin dan Ketua DPR Nancy Pelosi melanjutkan pembicaraan seputar stimulus terkait bantuan virus korona.

    Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi, dengan tujuh dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks 50 Tiongkok yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan optimistis.

    Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menghentikan pembicaraan bantuan covid-19 dengan Demokrat. Kemudian dia berbalik arah dan men-tweet bahwa dia ingin mengesahkan undang-undang tentang bantuan kepada maskapai penerbangan dan bisnis kecil.

    Tidak jelas apakah anggota parlemen kongres dan Pemerintahan Trump dapat menjembatani perbedaan mereka dan mencapai kesepakatan tentang paket bantuan sebelum Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada 3 November.

    Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mendesak para pembuat kebijakan untuk memberikan lebih banyak bantuan fiskal kepada rumah tangga dan bisnis yang dirugikan oleh pandemi. Ia memperingatkan pemulihan ekonomi yang melambat dan berkepanjangan dapat memicu dinamika resesi.

    Di sisi lain, lembaga riset Eropa memprediksi perekonomian global pada 2020 akan terkontraksi sebesar 4,4 persen akibat pandemi covid-19. Sebaliknya Tiongkok akan menjadi satu-satunya negara maju yang memiliki catatan positif dengan pertumbuhan sebesar 2,3 persen.
     
    "Sementara perekonomian di Amerika Serikat dan beberapa negara anggota Uni Eropa, masing-masing akan mengalami penurunan 6,5 persen dan 8,4 persen," ungkap riset Ifo Institute dan EconPol Europe.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id