Asia Tenggara Butuh Investasi USD2 Triliun untuk Kurangi Emisi Karbon

    Nia Deviyana - 30 September 2021 15:41 WIB
    Asia Tenggara Butuh Investasi USD2 Triliun untuk Kurangi Emisi Karbon
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Singapura: Laporan terbaru Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura menunjukkan, Asia Tenggara membutuhkan investasi senilai USD2 triliun pada dekade berikutnya untuk membangun infrastruktur berkelanjutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca di kawasan.

    "Investasi tersebut mencakup bidang-bidang seperti energi terbarukan, kendaraan listrik dan pengelolaan limbah," tulis laporan berjudul Southeast Asia's Green Economy: Opportunities on the Road to Net Zero dilansir CNBC International, Kamis, 30 September 2021.

     



    Menurut laporan tersebut, tahun lalu investor hanya menyuntik sekitar USD9 miliar ke bisnis dan aset hijau. Untuk mencapai angka investasi  USD2 triliun, sektor publik, swasta, dan filantropi di kawasan itu harus bekerja sama untuk membuka potensi penuh Asia Tenggara.

    Perubahan iklim menjadi perhatian serius bagi Asia Tenggara yang rawan bencana iklim dan cuaca ekstrem secara tidak proporsional.

    "Meskipun mengatasi covid-19 saat ini tetap menjadi prioritas utama bagi sebagian besar pemerintah, banyak perhatian di Asia Tenggara tahun lalu dikhususkan untuk tindakan iklim dan memikirkan langkah menuju ekonomi hijau," ujar co-director of Bain’s global sustainability innovation center, Dale Hardcastle.

    "Kami melihat beberapa rencana hijau diluncurkan di Singapura dan negara-negara lain," imbuh Hardcastle.

    "Kami mulai melihat lebih banyak upaya oleh pemerintah untuk melihat kolaborasi lintas kawasan, apakah itu langkah-langkah baru dalam melihat prospek ekonomi hijau, transisi energi, atau hal-hal lain," tambahnya.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan ekonomi hijau sebagai ekonomi di mana pertumbuhannya didorong oleh investasi pada kegiatan ekonomi, infrastruktur atau aset yang mendorong pengurangan emisi karbon dan polusi. Ekonomi hijau juga diyakini meningkatkan efisiensi energi dan sumber daya, serta mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem.

    Laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar 90 persen emisi karbon Asia Tenggara dapat diatasi dengan beralih dari bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih bersih seperti angin dan matahari, dan membuat produksi pangan pertanian di kawasan ini lebih efisien.

    Pertanian menjadi kontributor besar bagi perekonomian Asia Tenggara, namun itu juga merupakan sumber utama emisi karbon, menurut laporan tersebut. Dalam hal ini negara diminta merangkul petani kecil dan memberi insentif untuk mengadopsi praktik pertanian yang lebih berkelanjutan sebagai cara untuk mengurangi karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer.

    Masih menurut laporan tersebut, negara-negara harus segera mengambil kebijakan agar pada 2030 ekonomi hijau di kawasan tersebut dapat menghasilkan peluang ekonomi sekitar USD1 triliun, serta menciptakan sekitar lima juta hingga enam juta pekerjaan baru.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id