Fed Rumuskan Ulang Target Inflasi

    Angga Bratadharma - 28 Agustus 2020 07:17 WIB
    Fed Rumuskan Ulang Target Inflasi
    Gedung Federal Reserve. FOTO: Ting Shen/Xinhua
    Washington: Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengumumkan bank sentral Amerika Serikat (AS) akan berusaha mencapai inflasi rata-rata dua persen dari waktu ke waktu. Langkah itu merupakan strategi kebijakan baru yang kemungkinan menjaga suku bunga jangka pendek mendekati nol persen selama bertahun-tahun.

    "Menyusul periode ketika inflasi telah berjalan di bawah dua persen, kebijakan moneter yang sesuai kemungkinan akan bertujuan untuk mencapai inflasi secara moderat di atas dua persen untuk beberapa waktu," kata Powell, dikutip dari Xinhua, Jumat, 28 Agustus 2020.

    "Pendekatan kami dapat dipandang sebagai bentuk fleksibilitas dari penargetan inflasi rata-rata. Keputusan kami tentang kebijakan moneter yang tepat akan terus mencerminkan berbagai pertimbangan dan tidak akan ditentukan oleh formula apapun," tambahnya, dalam sambutannya pada konferensi penelitian tahunan Jackson Hole di Kansas City Fed.

    Pendekatan baru datang setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), komite pembuat kebijakan Fed, secara resmi menyetujui perombakan pernyataan bank sentral AS tentang tujuan jangka panjang dan strategi kebijakan moneter setelah tinjauan selama setahun terhadap kerangka kebijakan moneternya.

    "Perubahan ini mungkin tampak halus, tetapi ini mencerminkan pandangan kami bahwa pasar kerja yang kuat dapat dipertahankan tanpa menyebabkan pecahnya inflasi," ucap Powell.

    Ekonom Wells Fargo Securities Sam Bullard dan Michael Pugliese mengatakan target inflasi rata-rata menandakan bahwa the Fed akan memberikan toleransi kepada inflasi secara moderat di atas dua persen untuk menebus penurunan di masa lalu. Tentu harapannya bisa efektif memerangi dampak buruk covid-19.

    "Menghasilkan suku bunga riil yang lebih rendah dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, semuanya sama. Satu hal tampaknya cukup pasti di tengah perubahan ini yakni Fed tidak mungkin mengetatkan kebijakan moneter untuk waktu yang cukup lama," ungkap Sam Bullard dan Michael Pugliese, dalam sebuah analisis.

    "Dalam praktiknya, langkah tersebut kurang monumental daripada yang terlihat. Apalagi selama lebih dari tiga tahun, FOMC telah menekankan sifat simetris dari target dua persen dalam pernyataannya," tulis mereka.

    Kepala Ekonom RSM US LLP Joseph Brusuelas mengatakan meski langkah yang diambil the Fed ini seperti penyesuaian teknis kecil terhadap kebijakan, namun hal tersebut membawa konsekuensi jangka panjang yang signifikan bagi ekonomi Amerika.

    "Ini memberi bank sentral sejumlah besar fleksibilitas untuk menanggapi keadaan mendesak seperti gelombang kedua pandemi besar-besaran pada musim dingin atau untuk mengatasi kebijakan lain yang gagal oleh otoritas fiskal jika polarisasi kebijakan saat ini di Washington bertahan," kata Brusuelas.

    Adapun the Fed bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah yakni mendekati nol persen seraya memperingatkan bahwa kebangkitan baru-baru ini dalam kasus covid-19 secara nasional mulai membebani pemulihan ekonomi.

    The Fed memangkas suku bunga hingga mendekati nol persen pada dua pertemuan yang tidak terjadwal pada Maret dan mulai membeli sejumlah besar surat berharga AS dan sekuritas yang didukung hipotek untuk memperbaiki pasar keuangan.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id